Oleh : A. Muslimin

Secara global, tujuan syari’at (maqashid al-syari’ah) menjaga keseimbangan alam raya dan membatasi aktivitas manusia supaya tidak jatuh ke jurang kerusakan dan kerugian. Keseimbangan yang harus di jaga atau di lindungi sebagai tujuan syari’at Islam adalah melindungi agama (hifdh al-din), melindungi jiwa (hifdh al-nafs), melindungi akal (hifdh al-’aql), melindungi keturunan (hifdh al-nasl), dan melindungi harta (hifdh al-mal) atau dikenal dengan al-Kulliyat al-Khamsah, lima hal ini disusun berurut berdasarkan prioritas urgensinya.[1] Setiap hal yang menjaga al-Kulliyat al-Khamsah disebut dengan maslahat. Menjaga al-Kulliyat al-Khamsah berarti melindungi dan menjamin keberlangsungannya baik secara individual ataupun dalam kaitan dengan masyarakat sosial.

Pertama, dari tujuan syari’ah adalah hifdh al-din atau memelihara agama. Ajaran Islam menyuruh manusia berbuat sesuai dengan kehendak dan keridhaan Allah baik dalam bidang ibadah maupun muamalat. Manusia diciptakan pada hakikatnya adalah untuk beribadah dalam arti yang luas. Ibadah adalah aplikasi dari rasa syukur dan patuh kepada Allah dengan adanya iman. Naluri manusia untuk percaya kepada Allah dan hal-hal yang gaib dan naluri ini adalah hak bagi setiap manusia untuk dan tidak ada yang bisa menggugatnya.

Diantara bukti bahwa memelihara agama lebih didahulukan dari pada yang lain adalah; perintah untuk melakukan jihad memerangi orang kafir dalam rangka mempertahankan agama, padahal jihad sangat membahayakan jiwa. Ini menunjukkan bahwa dalam pandangan agama memelihara agama lebih didahulukan daripada memelihara jiwa.

Kedua, memelihara jiwa menempati posisi kedua karena hanya orang yang bernyawa sehat jasmani dan rohani yang mungkin melaksanakan seluruh syari’at, ajaran, aktivitas dan ketentuan agama. Demikian pentingnya memelihara jiwa, maka syari’at dengan tegas mengharamkan pembunuhan baik terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri atau bunuh diri. Pembunuhan bertentangan dengan harkat dan martabat kemanusiaan dan di benci oleh semua orang yang berakal sehat; sebab jika orang tersebut tidak waras, maka tidak bisa memahami, menghayati dan melaksanakan syari’at ajaran agama sehingga tidak mampu memahami ketentuan syari’at menyangkut kemaslahatan.

Bukti yang lain yang menunjukkan bahwa begitu pentingnya memelihara jiwa adalah; kesepakatan para ulama boleh bagi orang yang hampir meninggal karena kehausan untuk mengkonsumsi minuman keras. Namun, pemeliharaan jiwa saja tidak cukup jika tidak disertai dengan pemeliharaan akal sehat, karena hanya akal sehat yang bisa membawa seseorang menjadi mukallaf. Karena itu, sebagian teks syari’at juga membidik manusia untuk memelihara akal agar senantiasa sehat dan berpikiran jernih. Hanya pikiran sehat dan jernih yang dapat memenuhi tuntutan syari’ah untuk memahami ayat-ayat Allah.

Ketiga, memelihara akal yang sehat dan jernih manusia dapat berkreasi dan bekerja untuk membangun kehidupan yang berbudaya. Manusia bisa berdiskusi, bertukar informasi, berdialog dan bermusyawarah sehingga menghasilkan manusia yang berilmu dan bermasyarakat secara sempurna. Syari’at menghendaki kemaslahatan duniawi dan ukhrawi mewajibkan manusia untuk memelihara kesehatan akal.

Menurut Ramadhan al-Buthi, menjadi kesepakatan ulama bahwa pelaksanaan hukuman had zina tidak boleh menyebabkan kematian, kelumpuhan fungsi anggota badan atau kerusakan fungsi otak karena fungsi hukuman adalah untuk membuat efek jera.[2] Ini menunjukkan bahwa memelihara keturunan berada di belakang memelihara akal.

Keempat, memelihara keturunan, bentuk dari kemaslahatan baik duniawi atau ukhrawi adalah bertujuan untuk menjamin keberlangsungan hidup manusia dari generasi ke generasi. Karena itu syari’at memandang pentingnya naluri manusia untuk berketurunan dan syari’at mengatur pemeliharaan keturunan. Al-Qur’an juga mengatur hukum keluarga yang mencakup perintah membangun keluarga diatas landasan pernikahan yang sah, batasan jumlah istri, tata cara menggauli, talak, menafkahi istri dan tanggung jawab terhadap anak-anak yang lahir.

Bukti yang lain yang menunjukkan bahwa memelihara keturunan lebih di dahulukan dari pada memelihara harta; berprofesi sebagai PSK dilarang oleh agama. Sebagaimana Firman Allah dalam al-Qur’an Surat al-Nur ayat 33.[3] Ayat ini menjelaskan bahwa memelihara keturunan lebih diutamakan daripada memelihara harta.[4]

Kelima, dalam hal memelihara harta, syari’at menghendaki kehidupan yang layak dan sejahtera untuk melaksanakan syari’at itu sendiri. Karena itu, memelihara harta menjadi salah satu tujuan syari’at. Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan melaksanakan semua yang diperintahkan dan itu adalah untuk kehidupan akhirat akan tetapi manusia tidak boleh melupakan atau meninggalkan kehidupan dunia.

Media untuk menjaga al-Kulliyat al-Khamsah terbagi menjadi tiga tingkat berdasarkan urgensinya yang bervariasi. Tiga tingkatan tersebut di kalangan para pakar ushul fiqh di kenal dengan al-Dharuriyat, al- Hajiyat dan al-Tahsiniyat.[5]

Al-Dharuriyah adalah hal-hal yang menjadi unsur elementer kehidupan manusia dan karena itu wajib ada sebagai syarat mutlak terwujudnya kehidupan itu sendiri. Baik kehidupan yang bersifat duniawi maupun yang bersifat ukhrawi. Dalam arti apabila unsur ini tidak ada, maka tatanan kehidupan akan mengalami kegoncagan, kerusakan merajalela, urusan akhirat terabaikan dan bahkan kehidupan manusia akan punah sama sekali dan akhirnya maslahat akhirat potensial tidak di peroleh. Ini dapat ditempuh dengan menegakkan sendi-sendinya dan menerapkan dasar-dasarnya serta menghindarkan kerusakan yang mungkin menimpa. Al-Kulliyat al-khamsah mempunyai pengertian yang berbeda-beda dalam kerangka al-Dharuriyat.

Hifdh al-Din adalah melindungi agama setiap manusia dari hal-hal yang merusak akidah atau kepercayaan kepada Allah dan amaliyat. Secara lebih umum adalah menolak setiap hal yang berpotensi merusak dasar dan sendi agama yang aksiomatik (qoth’i). Tanpa akidah yang benar, agama tidak mungkin terwujud dan berkembang karena Allah tidak meridhai agama tanpa akidah tauhid. Pengertian ini memasukkan menjaga keutuhan masyarakat agama dan melindungi karakter dan nafas Islam dengan menjaga dan memelihara media penyampaian ajaran agama kepada masyarakat.

Untuk mewujudkan memelihara agama Allah mewajibkan iman dan melaksanakan rukun Islam yang lima. Dalam penyaluran naluri tauhidnya sejumlah ibadah ritual diberlakukan. Jika konsep tauhid diwajibkan, ibadah yang memperkokoh tauhidpun turut wajib. Perbedaan iman dan ibadah adalah jika iman bersifat universal (Kulli) dalam arti hukum wajibnya bersifat mutlak dan berlaku kapan dan dimana saja, maka hukum ibadah bersifat parsial (juz’i).[6] Sedang untuk melindunginya Allah mensyari’atkan jihad, memberi sangsi kepada ahli bid’ah, membuat aturan tentang orang murtad, memberi dosa besar bagi kemusyrikan dan Allah tidak mengampuninya di akhirat dan lain sebagainya.

Hifdh al-Nafs adalah melindungi jiwa dan raga seseorang dari kerusakan baik secara individu ataupun kehidupan sosial. Ini karena masyarakat sosial adalah komunitas yang terbentuk dari beberapa individu manusia. Dengan demikian dalam diri setiap manusia terdapat nilai yang menjamin keberlangsungan kehidupan masyarakat sosial. Program memelihara jiwa diwujudkan dalam bentuk menghalalkan makanan, minuman dan tempat tinggal yang menjadi tumpuan kehidupan, perintah memakai pakaian. Sejalan dengan itu, manusia tidak hanya sekedar hidup, tetapi juga hidup sehat jasmani dan rohani. Karena kesehatan menjadi unsur penting kedua dan termasuk kebutuhan primer. Jika usaha menjaga keselamatan jiwa adalah wajib, maka upaya menyehatkan tubuh manusia turut menjadi wajib.

Hifdh al-‘Aql adalah melindungi akal dari segala hal yang merusak. Hilang akal yang terjadi pada manusia tidak hanya berefek negatif secara individu namun juga dapat meresahkan masyarakat. Hukum yang disyari’atkan adalah penghalalan yang menjamin keselamatan dan pertumbuhan akal dan pengharaman segala hal yang dapat merusakkan.

Hifdh al-Nasl adalah melindungi manusia dari kepunahan dan melindungi status nasab manusia. Abai terhadap nasab akan menghilangkan rasa empati yang menjadi pendorong untuk melindungi dan menjamin segala kebutuhan keberlangsungan hidup seseorang. Untuk menjaga keturunan disyari’atkan pernikahan, diharamkan perzinaan dan menuduh zina (Qadzaf).

Hifdh al-Mal adalah melindungi harta dari kerusakan dan menghindarkan jatuh ketangan orang lain tanpa prosedur yang legal syar’i. Allah mensyari’atkan transaksi sosial yang merupakan kebutuhan primer dalam bentuk jual beli, sewa menyewa, pinjam meminjam dan lainnya. Sedang untuk melindunginya ditetapkan hukuman bagi pencuri, pengharaman ghashab, penjarah, kewajiban memberi kompensasi bagi seseorang yang merugikan orang lain dan lain-lain.[7]

Al-Hajiyyat adalah segala hal yang sangat di butuhkan sebagai sarana untuk mempermudah kehidupan manusia agar hidup bahagia dan sejahtera dunia dan akhirat dan terhindar dari berbagai kesulitan. Jika kebutuhan ini tidak diperoleh, kehidupan manusia pasti mengalami kesulitan (masyaqqah) meski tidak sampai menyebabkan kepunahan.

Al-Hajiyyat dibidang memelihara jiwa disyari’atkan aturan rukhshah (keringanan), berburu, amnesti dan lainnya. Untuk memelihara harta disyari’atkan berbagai transaksi yang bersifat skunder seperti modal ventura, jasa katering, pengolahan lahan dan lainnya. Dalam bidang memelihara keturunan ditetapkan aturan tentang mas kawin, ditetapkan kriteria saksi dalam perzinaan, aturan khiyar, gadai, jaminan dan larangan bai’ gharar.

Al-Tahsiniyyat adalah kebutuhan hidup komplementer skunder untuk menyempurnakan kesejahteraan hidup manusia. Hal-hal yang ketiadaannya tidak mengganggu kehidupan dan tidak menimbulkan kesulitan (haraj) bagi manusia. Jika kemaslahatan al-Tahsiniyyat ini tidak terpenuhi, maka kemaslahatan hidup manusia kurang sempurna dan kurang nikmat meski tidak menyebabkan kesengsaraan dan kebinasaan hidup.

Syari’at al-Tahsiniyyat dibidang memelihara agama adalah aturan najis, thaharah dan menutup aurat. Dalam bidang memelihara jiwa adalah etika makan, minum, menghindari makanan yang menjijikkan, menjauhi sifat boros. Sedang untuk memelihara harta terdapat larangan jual beli benda najis dan larangan menjual diatas transaksi orang lain. Untuk memelihara keturunan terdapat aturan kesepadanan (kafa’ah) dan etika hubungan suami istri dalam rumah tangga.

Selain itu al-Hajiyyat juga berstatus sebagai Mukammilah al-Dharuriyyat, al-Tahsiniyyat berfungsi sebagai Mukammilah al-Hajiyyatt. Sedang al-Dharuriyyat merupakan induk dari segala maslahat.

       [1] Mengenai urutan ke lima hal tersebut terdapat perbedaan dalam berbagai pendapat dan juga dalam berbagai kitab ushul fiqh. Namun berdasarkan prioritas urgensinya jika di urut seperti diatas. Penjelasan alasan dan bukti akan dijelaskan selanjutnya.

       [2] ‘Abd al-Qadir ‘Audah, al-Tasyri’ al-Jama’i al Islami, (Daar al-Kutub al-Ilmiyah, vol III, h. 490), Maktabah Shamila, al-Isydar al-Tsani.

       [3]…ولا تكرهوا فتيتكم على البغاء ان اردن تحصنا ليبتغوا عرض الحيوة الدنيا ومن يكرههن فان الله من بعد إكرههن غفور رحيم

                “… dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang”. (Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta : CV. Darus Sunnah, 2007), h. 355

       [4] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Op.Cit. h. 224

       [5] Selanjutnya lihat al-Syatibi, al-Muwafaqat, juz 2, Op.Cit. h. 8-11

       [6] Lihat Hamka Haq, Op.Cit., h. 104

       [7] Muhammad al-Thahir ibn ’Asyur, Op.Cit. h. 303-306

 

Advertisements