Oleh : A. Muslimin

Sejarah muncul dan berkembangannya bank adalah akibat dari adanya kekhawatiran sekelompok orang atau individu bagaimana cara-cara menyimpan harta benda. Para saudagar khawatir membawa perhiasan dari satu tempat ke tempat yang lain. Kasus-kasus tersebut merupakan alternatif bagi seseorang atau kelompok untuk menitipkan barang dan harta bendanya kepada bank dikarenakan bank dapat dipercaya dan dapat menjaga harta dengan kekuatan tenaga. Demikianlah berdiri bank-bank dengan berbagai macam dan caranya.[1]

Bank pertama berdiri di Venesia dan Genoa di Italia, kira-kira abad ke-14.[2] Kota-kota tersebut merupakan kota perdagangan dan dari kedua kota ini berpindahlah sistem bank ke Eropa Barat.

Perkembangan bank begitu pesat dan signifikan seiring dengan berkembangnya kebutuhan ekonomi masyarakat terhadap bank. Adanya perkembangan ekonomi tersebut menjadikan pengelola bank meninjau sistem-sistem bank yang ada kemudian diadakan perkembangan sesuai dengan keadaan zaman yang semakin berkembang.

Dalam perkembangannya, bank-bank Islam atau sering disebut dengan bank syari’ah dan awal mulai berkembang pada tahun 1960-an dan 1970-an di negara-negara Muslim waktu itu dan khususnya di Mesir karena adanya beberapa faktor yang mendorong munculnya bank-bank Islam tersebut.[3]

Faktor pertama muncul dari kecaman kaum neo-revivalis terhadap bunga bank sebagai riba. Kecaman ini muncul akibat banyaknya bank-bank konvensional yang berbasis bunga berdiri di dunia Muslim pada abad ke-19. Gerakan al-Ikhwan al-Muslimin dan Jama’at Islami yang sangat berpengaruh mulai menyuarakan kritiknya terhadap sistem keuangan berbasis bunga di Mesir, India dan belahan dunia Muslim yang lain sejak tahun 1930 dan berlanjut secara silmultan pada tahun 1950-an dan 1960-an.[4]

Faktor kedua muncul dari akibat kekayaan minyak negara-negara Teluk konservatif. Pendapatan minyak dari negara-negara teluk adalah faktor penentu yang penting dalam perkembangan bank-bank Islam. Hampir semua bank-bank Islam yang didirikan pada dekade 70-an di Timur Tengah dibiayai sebagian dan kebanyakan sepenuhnya, dengan kekayaan yang terkait dengan minyak. Negara yang paling aktif dalam menyumbangkan modal penting untuk bank-bank Islam adalah Arab Saudi, Kuwait dan UEA.[5]

Faktor ketiga muncul dari pengadopsian interpretasi tradisional riba oleh sejumlah negara-negara Muslim pada tingkat pembuatan kebijakan.[6] Keputusan atau kebijakan-kebijakan tersebut yang menjadi salah satu sebab munculnya bank-bank Islam terutama di negara-negara Muslim.

Keputusan pelarangan bunga dalam bentuk undang-undang dibeberapa  negara Muslim disatu pihak menemukan ekspresinya dalam hukum perdata dan hukum dagang dibeberapa negara Muslim. Kuwait adalah salah satu negara Muslim yang melaksanakan hukum perdata yang melarang adanya praktek bunga dalam pinjaman-pinjaman,  namun disisi lain hukum perdata Kuwait mengizinkan bunga dalam pinjaman-pinjaman komersial, demikian juga yang berlaku di Saudi Arabia.[7]

Keputusan untuk mendirikan bank Islam[8] Internasional yang diawali oleh usaha-usaha yang dilakukan oleh para pemimpin-pemimpin negara Muslim untuk membuat sebuah front persatuan Islam dengan mengadakan pertemuan dan musyawarah bersama dengan satu pandangan untuk mempromosikan kerjasama yang erat dan saling tolong menolong dibidang ekonomi, ilmu pengetahuan, budaya dan agama. Keputusan tersebut yang menjadikan negara-negara Muslim mendirikan bank Islam internasional pertama yaitu pada tahun 1970, namun bank tersebut dapat terwujud pada tahun 1973 dengan didirikannya Islamic Development Bank (Bank Pembangunan Islam) yang dibuka secara resmi pada tanggal 20 Oktober 1975.[9] Tujuan dari bank ini adalah untuk mendukung pembangunan ekonomi dan perkembangan sosial di negara Muslim baik secara individual maupun secara kolektif. Tujuan utama didirikannya bank Islam ialah untuk menghindari bunga uang yang dilaksanakan oleh bank-bank konvensional dan menjadikan bank-bank Islam selaras dengan prinsip-prinsip syari’ah.[10]

Bank-bank Islam dalam berbagai bentuknya bermunculan di banyak negara Muslim atau non-Muslim. Perkembangan bank ini tidak lepas dari permintaan pasar dan disisi lain usaha-usaha keras yang dilakukan negara-negara teluk kaya minyak.

Indonesia termasuk negara yang menerapkan dan mengembangkan perbankan syari’ah. Industri perbankan yang pertama menggunakan sistem syari’ah di Indonesia adalah PT Bank Muamalat Indonesia Tbk yang didirikan pada tahun 1991 dan memulai kegiatan operasionalnya pada tahun 1992. Pendirian bank tersebut diprakarsai oleh Majlis Ulama Indonesia (MUI), Pemerintah Indonesia, mendapat dukungan dari ICMI dan dari beberapa pengusaha-pengusaha Muslim.

       [1] Hendi Suhendi, Fiqh Muamalat, (Jakarta : PT Raja Grafindo, 2008), h. 276

 

       [2] Lihat, Mohd. Fachruddin, Riba dalam Bank, Koperasi, Perseroan dan Asuransi, (Bandung : PT al-Ma’arif, 1985), h. 110

       [3] Abdullah Saeed, Menyoal Bank Syari’ah : Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo-Revivalis, Penerjemah : Arif Maftuhin, (Jakarta : Paramadina, 2004), h. 6

 

       [4] Ibid., h. 7-8

       [5] Ibid., h. 8-10

 

       [6] Ibid.

 

       [7] Ibid., h. 11-12

 

       [8] Bank Islam adalah suatu lembaga keuangan yang fungsi utamanya menghimpun dana untuk disalurkan kepada orang atau lembaga yang membutuhkannya dengan sistem tanpa bunga atau dengan menggunakan prinsip-prinsip syari’ah. (Lihat. Masfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, Jakarta : CV. Haji Masagung, 1988), h. 143

 

       [9] Abdullah Saeed, Op.Cit., h. 19

 

       [10] Hendi suhendi, Op.Cit., h. 283

Advertisements