download (8)Oleh : A. Muslimin

Terma maqashid menempati urgensitas tersendiri melebihi terma-terma ushul fiqh yang lain. Terma yang dimunculkan dan disistematiskan oleh al-Syatibi ini mendapatkan respon yang menggembirakan dari berbagai pihak, orang-orang dahulu maupun orang sekuler, golongan konservatif atau pembaharu. Semuanya sepakat bahwa topik maqashid perlu mendapatkan porsi yang tinggi. Karena disitulah sebenarnya inti dari syari’at.

Al-Syatibi bukanlah orang pertama yang menggulirkan terma ini. Jauh sebelum al-Syatibi, Abu al-Ma’ali al-Juwaini yang lebih dikenal dengan sebutan Imam Haramain (w.438 H) sebagai salah satu dari ulama mutaakhirin[1] telah menggagas permasalah ini dengan melontarkan ide maqashid al-syari’at sebagai ‘ilmu baru’ yang mempunyai karateristik ‘kepastian’ dalil-dalilnya dan melampaui perbedaan-perbedaan mazhab fiqh dan bahkan dari ushul fiqh yang bersifat dzani itu sendiri. Dalam bukunya yang cukup mengundang kontroversi Ghiyats al-Umam fi al-Tayats al-Dzulam, Juwaini mengungkapkan keprihatinannya akan kemerosotan peradaban sosial, terutama cendekia dan politisi Islam. Dan menurutnya untuk keluar dari kondisi ini tak ada cara selain “membangun maqashid al-syari’ah yang universal dan mengangkatnya dari level dzani –sebagai karakteristik ushul fiqh- ke level qoth’i.[2] Meski konsep yang ditawarkan al-Juwaini ini tidak begitu dalam dibanding dengan al-Syatibi misalnya, tapi paling tidak ia telah memberikan andil yang cukup besar -dibanding tokoh-tokoh semasanya- dalam menggulirkan ide di atas. Dan itu juga dijadikan sebagai pijakan dan inspirasi orang-orang setelahnya, termasuk al-Syatibi sendiri.

Lebih jauh lagi apa yang disebutkan oleh Dr. Ahmad al-Raisuny dari penelitiannya bahwa terma maqashid al-syari’ah telah digunakan oleh orang-orang sebelum Imam Haramain. Tokoh-tokoh yang memberikan concern terhadap tema ini antara lain;[3] al-Turmudzi al-Hakim (abad III), dia termasuk orang yang pertama kali menggunakan dan menggulirkan terma maqashid, meski dengan teorinya yang khas, seperti yang tertuang dalam karyanya, al-Shalat wa Maqasidiha. Berikutnya adalah Abu Mansur al-Maturidi (w.333 H), Abu Bakar al-Qaffal (w.365 H), Abu Bakar al-Abhary (w.375 H), al-Baqillani (w.403 H), dilanjutkan Imam Haramain (w. 438 H), Imam al-Ghazali (w. 505 H), al-Razi (w. 606 H), al-Amidy (w.631 H), Ibn Hajib (w. 646 H), Izzudin Abd Salam (w.660 H) yang tertuang dalam karyanya Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-Anam, Baidlowi (w.685 H), al-Asnawi (w.772 H), Ibn Subki (w.771 H), dan beberapa tokoh lainnya.

Itulah sederet tokoh-tokoh yang memberikan concern terhadap urgennya maqashid. Namun begitu, mereka belum menawarkan konsep yang komprehensif seperti yang ditawarkan oleh al-Syatibi. Karenanya adalah wajar ketika al-Syatibi dianggap sebagai bapak Maqashid al-Syari’at, sebagaimana Imam al-Syafi’i diklaim sebagai pendiri ilmu ushul fiqh.

Namun sayang proyek besar al-Syatibi dengan mengangkat tema maqashid ini tidak didukung oleh kondisi saat itu, kondisi dimana umat Islam sedang mengalami krisis pemikiran karena buku al-Muwafaqat yang memuat rumusan-rumusan lengkap tentang maqashid al-syari’at ditulis kira-kira setengah abad sebelum runtuhnya kota Granada, wilayah umat Islam yang paling akhir di Andalusia, Spanyol. Akhirnya karya besar itu terkubur begitu saja dan tidak ditindaklanjuti oleh generasi berikutnya.

Baru pada tahun (1302 H/1884 M) lebih dari 400 tahun setelah wafat pengarangnya,[4] buku al-Muwafaqat mulai dikenal dan dikaji pertama kali di Tunis. Sejak saat itulah orang mulai ‘memanfaatkan’ dan mengkaji konsep maqashidnya al-Syatibi. Dan ide mengenai ilmu baru ilmu maqashid al-Syari’ah kembali muncul  di abad 20 dengan Muhammad Thohir ibn ‘Asyur (1879-1973 M) sebagai tokohnya. Bahkan tokoh besar asal Tunisia ini dianggap sebagai bapak Maqashid kontemporer, setelah al-Syatibi. Dialah yang paling ‘serius’ menggolkan konsep ilmu baru ini sebagai ilmu yang terlepas dari ushul fiqh setelah sebelumnya merupakan bagian darinya.

       [1] Duski Ibrahim, Op.Cit. h. 28

       [2] Abd Majid al-Shoghir, al-Fikr al-Ushuli wa Isykaliyyat al-Sulthoh al-Ilmiyyah fi al-Islam, (Beirut : Dar al-Muntakhob al-Arabi, 1994), cet. Ke-I, h. 356

       [3] Ahmad al-Raisuny, Nadzariyyah al-Maqashid ‘ind al-Imam al-Syatibi, (IIIT, 1995), cet. Ke-IV, h. 40-seterusnya.

       [4] Abu al-Ajfan, Op.Cit. h. 45

Advertisements