download (7)Oleh : A. Muslimin

Sebagaimana disebut dimuka bahwa ide pen-ta’sis-an ilmu maqashid telah digulirkan oleh ulama-ulama dulu. Dan pada era kontemporer ini ide itu diteruskan oleh Ibn ‘Asyur yang tertuang dalam bukunya “Maqashid al-Syari’ah”. Sebenarnya Ibn ‘Asyur pun bukan satu-satunya orang yang pertama kali mengangkat tema itu pada masa kontemporer. Sebelumnya, tema yang sama diangkat oleh Muhammad Munir Imron dalam disertasi yang diajukan pada Madrasah Qadla al-Syar’i di Mesir tahun 1930 M dengan judul “Qosd al-Syari’ min Wadl’i al-Syari’at”, dan seorang Faqih asal Tunis yang semasa dengan Ibn ‘Asyur, Mohamad Abd Aziz telah membahas topik diatas dan dimuat di majalah al-Zaituniyah tahun 1936 M dengan judul “Maqashid al-Syari’at wa Asrar al-Tasyri’“.[1] Memang karya Ibn ‘Asyur yang pertama kali diterbitkan tahun 1946 M dan merupakan satu-satunya kajian yang memberikan corak lain bagi maqashid al-syari’at dari yang mulanya bagian dari ushul fiqh menjadi sebuah konsep.

Ide di atas muncul karena menurut kacamatanya, ilmu ushul fiqh sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan zaman secara maksimal, karena memang ia diformat sesuai dengan kondisi pada saat itu, bahkan dengan karateristik fiqhiyyah yang cenderung mengutamakan persoalan-persoalan individu dari pada kepentingan sosial. Selain itu ushul fiqh terkesan ‘mandul’ dalam memproduksi hukum-hukum yang bersifat universal dan lebih substansial, disamping ketidakmampuannya meminimalisir perbedaan pendapat yang berkembang, karena masih berlandaskan pada dasar-dasar yang bersifat dzanni. Karenanya perlu ada format baru yang bisa takayyuf, beradaptasi dan sanggup memenuhi kebutuhan zaman yang semakin global. Dan format baru itu bernama ‘Ilmu Maqashid al-Syari’at.[2]

Tidak dapat dibantah bahwa proyek Ibn ‘Asyur ini banyak terilhami dari konsep-konsep sebelumnya -Izuddin Abd Salam, Qarafi dan terutama sekali adalah al-Syatibi-. Tetapi ‘Asyur melihat bahwa al-Syatibi kadang melupakan hal-hal yang mestinya mendapat perhatian yang penuh, sehingga apa yang diinginkan tidak tercapai.[3] Jadi apa yang dilakukan oleh Ibn ‘Asyur tidak bisa dikatakan mengikuti tanpa kreasi dengan sekedar  memberikan catatan-catatan kecil dan contoh-contoh baru pada konsepnya al-Syatibi. Justru ‘Asyur telah memberikan inovasi baru tentang konstruktif maqashid.

Kreasi konstruktif dan inovatif yang dilakukan Ibn ‘Asyur bisa dikembalikan pada dua pokok bagian; pertama; menetapkan pokok-pokok maqashid, kedua; penambahan-penambahan terhadap teori maqashid. Pada bagian pertama, selain menjelaskan pokok-pokok maqashid, iapun menampilkan -secara metodologis- dominasi cara pandang maqashidy. Pokok-pokok maqashid yang ditetapkan Ibn ‘Asyur digolongkan menjadi tiga bagian;[4]

Qawaid Maqashid ‘Ammah. Disebutkan oleh Ismail Hasani ada 23 kaidah umum yang ditetapkan oleh Ibn ‘Asyur, yang antara lain adalah; kaidah bahwa “semua hikmah dan illat syari’at adalah demi kemasalahatan umum, baik sosial dan individu”. Kaidah selanjutnya adalah terbangunnya maqashid kepada fitrah. Dari kaidah ini muncul maqashid yang lain; egaliter (musawat), kebebasan (hurriyat) dan toleran (samahat).

Qawaid Maqashid Khos. –Tujuan syari’dari muamalat adalah menentukan macam-macam hak kepada pemiliknya. -Tujuan pemberlakuan hukuman adalah ta’dib bagi pelakunya, memuaskan korban, dan menghindari perbuatan serupa dari orang lain. -Tujuan dari tasarrufat maliyah adalah berputarnya keuangan, menjaganya, dan berlaku adil. -Dan masih banyak lagi.

Qawaid Maqashid al-Syari’ah. Ada tiga cara menurut Ibn ‘Asyur untuk dapat mengetahui maqashid al-Syariat.[5] Pertama; melalui istiqra’, mengkaji syariat dari semua aspek, dan ini ada dua macam; -mengkaji dan meneliti semua hukum yang diketahui illatnya. Dengan meneliti illat, maqashid akan dapat diketahui dengan mudah. -Meneliti dalil-dalil hukum yang sama illatnya, sampai dirasa yakin bahwa illat tersebut adalah maqashidnya. Kedua; Dalil-dalil al-Qur’an yang jelas dan tegas dalalahnya yang kemungkinan kecil mengartikannya bukan pada makna dhohirnya. Ketiga; Dalil-dalil al-Sunnah yang mutawatir, baik secara ma’nawi atau amali.

       [1] Majalah, al-Muslim al-Mu’asir, edisi 23 tahun 2002

       [2] Moh Thahir Ibn ‘Asyur, Maqasid al-Syari’at al-Islamiyyah, di tahqiq Moh Thahir al-Mansyawi, (Yordan : Dar Nafais, 2001), cet. Ke-II, h. 172

 

       [3] Ibid. h. 174

 

       [4] Ismail Hasani, Nadzariyyat al-Maqashid ‘inda Muhammad Thahir Ibn ‘Asyur, (IIIT, 1995), cet. Ke-I, h. 426

       [5] Ibn ‘Asyur, Op.Cit. h. 190-195

Advertisements