bukharTAKHRIJ AL-HADITS

A. Muslimin[1]

 A. PENDAHULUAN

Proses periwayatan hadits sudah begitu lama dari era Nabi Muhammad Saw sampai sekarang. Ketika orang dibingungkan oleh kehadiran hadits yang diragukan keorisinilannya, upaya-upaya antisipatif pun mulai dilakukan. Para pakar hadits melakukan perjalanan panjang. Observasi, penemuan metode, dan kaidah takhrij hadits mulai dirumuskan.

Hadits merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an. Keberadaannya dalam kerangka ajaran Islam merupakan penjelasan terhadap apa yang ada di dalam al-Qur’an. Disamping itu, peranannya semakin penting jika didalam ayat-ayat al-Qur’an tidak ditemukan suatu ketetapan, maka hadits dapat dijadikan dasar hukum dalam dalil-dalil keagamaan. Dengan demikian kitab-kitab hadits menduduki posisi penting dalam khazanah keilmuan Islam. Dengan dibukukan hadits-hadits Nabi kedalam bentuk kitab, keberadaan hadits tidak sekedar terpelihara, tetapi umat Islam juga semakin terbantu dalam mempelajari dan menelusurinya.

Sebagaimana halnya al-Qur’an, al-Hadits pun telah banyak diteliti oleh para ahli, bahkan dapat dikatakan penelitian terhadap al-Hadits lebih banyak kemungkinannya dibandingkan penelitian terhadap al-Qur’an. Hal ini dikarenakan perbedaan dari segi datangnya al-Qur’an dan hadits. Kedatangan (wurud), atau turun (nuzul)nya al-Qur’an diyakini secara mutawatir berasal dari Allah. Tidak ada satu ayat al-Qur’an pun yang diragukan sebagai yang bukan berasal dari Allah Swt. Sedangkan Hadits dari segi datang (al-wurud)nya tidak seluruhnya diyakini berasal dari Nabi Saw, melainkan ada yang berasal dari selain Nabi. Hal ini selain disebabkan sifat dari lafadz-lafadz hadits yang tidak bersifat mukjizat, juga disebabkan perhatian tarhadap penulisan hadits pada zaman Rasulullah agak kurang, bahkan beliau pernah melarangnya dan juga karena sebab-sebab yang bersifat politis dan lainnya.

Takhrij hadits merupakan langkah awal dalam kegiatan penelitian hadits. Pada masa awalnya penelitian hadits ini telah dilakukan oleh para ulama salaf yang kemudian hasilnya telah dikodifikasikan dalam berbagai buku hadits. Mengetahui masalah takhrij, kaidah dan metodenya adalah sesuatu yang sangat penting bagi orang yang mempelajari ilmu-ilmu syar’i, agar mampu melacak suatu hadits sampai pada sumbernya.

Takhrij hadits merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan, karena orang yang mempelajari ilmu tidak akan dapat membuktikan (menguatkan) dengan suatu hadits atau tidak dapat meriwayatkannya kecuali setelah para ulama meriwayatkan hadits tersebut dalam kitabnya lengkap dengan sanadnya, karena itu, masalah takhrij ini sangat dibutuhkan setiap orang yang membahas atau menekuni ilmu-ilmu syar’i dan yang sehubungan dengannya.

Takhrij hadits bertujuan untuk mengetahui sumber asal hadits yang di takhrij. Tujuan lainnya adalah mengetahui di tolak atau diterimanya hadits-hadits tersebut. Dengan cara ini, kita akan mengetahui hadits-hadits yang pengutipannya memperhatikan kaidah-kaidah ulumul hadits yang berlaku sehingga hadits tersebut menjadi jelas, baik asal-usul maupun kualitasnya.

B. PEMBAHASAN

  1. Pengertian Takhrij al-Hadits
  2. Secara etimologi

Kata Takhrij berasal dari bahasa Arab (خرج يخرج خروجا) mendapat tasydid pada huruf ra’ yang disitu adalah ain fi’il menjadi (خرّج يخرّج تخريجا) yang bermakna menampakkan, mengeluarkan, menerbitkan, menyebutkan, dan menumbuhkan.[2] Demikian juga kata al-ikhraj (اْلِإخْرَج) yang artinya menampakkan dan memperlihatkannya. Dan al-makhraj (المَخْرَج) artinya tempat keluar.[3] Juga bisa berarti penyatuan dua hal yang saling bertentangan. Selain itu takhrij juga bisa memiliki arti sama dengan al-istinbath (mengeluarkan), al-tadrib (meneliti), dan al-taujih (menerangkan). Maknanya juga bisa dari makna al-ikhraj yang sama dengan al-ibraz (menjelaskan) dan al-idzhar (menampakkan).

اِجْتِمَاعُ اَمْرَيْنِ مُتَضَادَيْنِ فِى شَىْءٍ وَاحِدٍ

Artinya: “kumpulan dua perkara yang saling berlawanan dalam satu masalah”

  1. Secara terminologi

Menurut Jumhur Ulama

التَّخْرِيْجُ هُوَ الدِّلَالَة عَلىَ مَوْضِعِ الحَدِيْث فِي مَصَادِرِه الأصْلِيَّة التي أخْرَجَتْه بِسَنَدِه. ثُمَّ بَيَان مَرْتَبَتِه عِنْدَ

الحاجَةِ المُرَادُ بِالدِّلَالَة عَلى مَوْضِعِ الحَدِيْث, ذِكْرُ المُؤلِّفِ التي يُوْجَدُ فِيْها ذلك الحَدِيْث كَقَوْلِنا مَثلا: أخْرَجَه

البخاري في صَحِيْحِه

Menunjukkan letak Hadits dalam sumber-sumber yang asli (sumber primer) di mana diterangkan rangkaian sanadnya kemudian menjelaskan Hadits dalam sumber-sumber yang asli (sumber primer) di mana diterangkan rangkaian sanadnya kemudian menjelaskan Hadits itu bila perlu. Menunjukkan letak Hadits suatu Hadits berarti menunjukkan sumber-sumber dalam Hadits itu diriwayatkan, misalnya pernyataan أخرجه البخاري في صحيحه    (Al-Bukhori mengeluarkan Hadits dari kitab sahihnya)”.[4]

Takhrij menurut istilah adalah menunjukkan tempat hadits pada sumber aslinya yang mengeluarkan hadits tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika diperlukan.[5]

Pengertian Takhrij al-Hadits dari beberapa pengertian, di antaranya ialah:

  • Suatu keterangan bahwa hadits yang dinukilkan ke dalam kitab susunannya itu terdapat dalam kitab lain yang telah disebutkan nama penyusunnya. Misalnya, penyusun hadits mengakhiri penulisan haditsnya dengan kata-kata akhrajahul Bukhari artinya bahwa hadits yang dinukil itu terdapat dalam kitab Jami’us Shahih Bukhari.

  • Suatu usaha mencari derajat, sanad, dan rawi hadits yang tidak diterangkan oleh penyusun atau pengarang suatu kitab.

  • Mengemukakan hadits berdasarkan sumbernya atau berbagai sumber dengan mengikutsertakan metode periwayatannya dan kualitas haditsnya.

  • Mengemukakan letak asal hadits pada sumbernya yang asli secara lengkap dengan matarantai sanad masing-masing dan dijelaskan kualitas hadits yang bersangkutan.[6]

Dari sekian banyak pengertian takhrij di atas, yang dimaksud takhrij dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian hadits lebih lanjut, maka takhrij berarti “Penelusuran atau pencarian hadits pada berbagai kitab-kitab koleksi hadits sebagai sumber asli dari hadits yang bersangkutan, yang di dalam sumber tersebut dikemukakan secara lengkap matan dan matarantai sanad yang bersangkutan”.[7]

  1. Menurut Para Ahli Hadits[8]
  • Menunjukan asal usul hadits dan mengemukakan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadits yang disusun Mukhorrijnya langsung, kegiatan takhrij seperti ini sebagaimana yang dilakukan oleh para penghimpun hadits dari kitab-kitab hadits, misalnya Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang menyusun kitab Bulugh al-Maram.

  • Mengemukakan hadits kepada orang banyak dengan menyebutkan peristiwanya dengan sanad lengkap serta dengan menyebutkan metode yang mereka tempuh, inilah yang dilakukan para penghimpun dan penyusun kitab hadits, seperti al-Bukhari yang menghimpun kitab hadits Shahih al-Bukhari

  • Mengemukakan hadits berdasarkan kitab tertentu dengan disertakan metode periwayatannya dan sanadnya serta penjelasan keadaan para periwayatnya serta kualitas haditsnya, takhrij seperti ini dilakukan oleh Zain al-Din ‘Abd al-Rahman ibn al-Husai al-‘Iraqi yang melakukan takhrij terhadap hadits-hadits yang dimuat dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karya al-Gazali dengan judul bukunya Ikhbar al-Ihya’ bi Akhbar al-Ikhya’.

  1. Kegunaan dan manfaat takhrij

Urgensi takhrijul hadits adalah untuk mengetahui sumber asal hadits yang ditakhrij. Tujuan lainnya adalah mengetahui di tolak atau diterimanya hadits-hadits tersebut. Dengan cara ini, kita akan mengetahui hadits-hadits yang pengutipannya memerhatikan kaidah-kaidah ulumul hadits yang berlaku sehingga hadits tersebut menjadi jelas, baik asal-usul maupun kualitasnya.

Ada beberapa manfaat dari Takhrij al-Hadits antara lain sebagai berikut: [9]

  1. Dapat diketahui banyak sedikitnya jalur periwayatan suatu hadits yang menjadi topik kajian.
  2. Dapat diketahui kuat tidaknya periwayatan akan menambah kekuatan riwayat. Sebaliknya, tanpa dukungan periwayatan lain, kekuatan riwayat tidak bertambah.
  3. Memberikan informasi bahwa suatu hadits termasuk hadits shahih, hasan, ataupun dhaif, setelah diadakan penelitian dari segi matan, sanad maupun rawinya.
  4. Memberikan kemudahan bagi orang yang mau mengamalkan setelah tahu bahwa suatu hadits adalah hadits maqbul (dapat diterima). Dan sebaliknya tidak mengamalkannya apabila diketahui bahwa suatu hadits adalah mardud (tertolak).
  5. Menguatkan keyakinan bahwa suatu hadits adalah benar-benar berasal dari Rasulullah Saw yang harus kita ikuti karena adanya bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran hadits tersebut, baik dan segi sanad, matan maupun rawi.
  6. Latar belakang kebutuhan

Ada beberapa faktor utama yang melatarbelakangi kebutuhan terhadap kegiatan penelitian terhadap hadits ‘Takhrij al-Hadits’ yang dilakukan oleh seorang atau beberapa peneliti hadits diantaranya sebagai berikut :[10]

  1. Mengetahui asal-usul riwayat hadits yang akan diteliti.

Maksudnya adalah untuk mengetahui status dan kualitas hadits dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian, langkah awal yang harus dilakukan oleh seorang peneliti adalah mengetahui asal-usul periwayatan hadits yang akan diteliti, sebab tanpa mengetahui asal-usulnya sanad dan matan hadits yang bersangkutan mengalami kesulitan untuk diketahui matarantai sanadnya sesuai dengan sumber pengambilannya, sehingga tanpa diketahui secara benar tentang matarantai sanad dan matan, maka seorang peneliti mengalami kesulitan dalam melakukan penelitian secara baik dan cermat. Makanya dari faktor ini, kegiatan penelitian hadits (takhrij) dilakukan.

  1. Mengetahui dan mencatat seluruh periwayatan hadits bagi hadits yang akan diteliti.

Maksudnya adalah mengingat redaksi hadits yang akan diteliti itu bervariasi antara satu dengan yang lain, maka diperlukan kegiatan pencarian seorang peneliti terhadap semua periwayatan hadits yang akan diteliti, sebab boleh jadi salah satu sanad hadits tersebut berkualitas dha’if dan yang lainnya berkualitas shahih.

  1. Mengetahui ada tidaknya syahid dan mutabi’ pada mata rantai sanad

Mengingat salah satu sanad hadits yang redaksinya bervariasi itu dimungkinkan ada perawi lain yang sanadnya mendukung pada sanad hadits yang sedang diteliti, maka sanad hadits yang sedang diteliti tersebut mungkin kualitasnya dapat dinaikkan tingkatannya oleh sanad perawi yang mendukungnya.

Dari dukungan tersebut, jika terdapat pada bagian perawi tingkat pertama (yaitu tingkat sahabat) maka dukungan ini dikenal dengan syahid. Jika dukungan itu terdapat pada bagian perawi tingkat kedua atau ketiga (seperti pada tingkatan tabi’in atau tabi’it tabi’in), maka disebut sebagai mutabi’.

Dengan demikian, kegiatan penelitian (takhrij) terhadap hadits dapat dilaksanakan dengan baik jika seorang peneliti dapat mengetahui semua asal-usul matarantai sanad dan matannya dari sumber pengambilannya. Begitu juga jalur periwayatan mana yang ada syahid dan mutabi’nya, sehingga kegiatan penelitian (takhrij) dapat dengan mudah dilakukan secara baik dan benar dengan menggunakan metode pentakhrijannya.

Ilmu takhrij merupakan bagian dari ilmu agama yang harus mendapat perhatian serius karena didalamnya dibicarakan berbagai kaidah untuk mengetahui sumber hadits itu berasal. Disamping itu, didalamnya banya ditemukan kegunaan dan hasil yang diperoleh, khusunya dalam menentukan kualitas sanad hadits.

  1. Sejarah dan Perkembangan Takhrij al-Hadits

Para ulama salaf tidak pernah kesulitan untuk melacak hadits, karena mayoritas hadits sudah mereka hafal. Tidak terbatas matan dan sanadnya namun juga sumber tempat hadits tersebut diriwayatkan dan juga kualitas tiap-tiap hadits dengan penguasaan yang begitu rinci.[11] Mereka tidak lagi membutuhkan buku untuk menemukan hadits, cukup dengan kembali pada hafalan-hafalan mereka yang begitu kuat. Sejalan dengan berlalunya waktu, hafalan generasi berikutnya mulai memudar hingga dibutuhkan sumber-sumber tertulis untuk memudahkan pelacakan informasi yang dibutuhkan.

Dari sinilah kemudian dengan melihat kebutuhan yang begitu mendesak banyak ditulis buku-buku yang berkaitan dengan takhrij hadits untuk mempermudah menemukan hadits pada sumbernya dan dengan menjelaskan metodenya, serta menerangkan hukumnya dari shahih hingga yang dha’if.[12]

Ulama yang pertama kali melakukan takhrij menurut Mahmud Ath-Thahhan adalah Al-Khaththib Al-Baghdadi (w. 436 H). Kemudian, dilakukan pula oleh Muhammad bin Musa Al-Hamzimi (w. 584 H) dengan karyanya yang berjudul Takhrij Ahadits Al-Muhadzab. Ia mentakhrij kitab fiqih Syafi’iyah karya Abu Ishaq Asy-Syirazi. Ada juga ulama lainnya, seperti Abu Qasim Al-Mahrawani. Karya kedua ulama ini hanya beberapa mahthuthah (manuskrip) saja. Pada perkembangan selanjutnya, cukup banyak bermunculan kitab yang berupaya mentakhrij kitab-kitab dalam berbagai ilmu agama.

Pada mulanya, ilmu takhrij tidak dibutuhkan oleh para ulama dan peneliti hadits karena pengetahuan mereka tentang sumber hadits ketika itu  sangat luas dan baik. Hubungan mereka dengan sumber hadits juga kuat sekali, sehingga apabila mereka menjelaskan sumber hadits tersebut dalam berbagai kitab hadits, yang mana metode dan cara-cara penulisan kitab-kitab tersebut mereka ketahui. Dengan kemampuan yang mereka miliki, mereka dengan mudah dapat menggunakan dan mencari sumber dalam rangka men-takhrij hadits. Bahkan, apabila di hadapan seorang sumber aslinya, ulama tersebut dengan mudah dapat menjelaskan sumber aslinya.[13]

Ketika para ulama mulai merasa kesulitan untuk mengetahui sumber dari suatu hadits, yaitu setelah berjalan beberapa periode tertentu dan setelah berkembangnya karya-karya ulama dalam bidang fikih, tafsir dan sejarah yang memuat hadits-hadits Nabi Saw, yang kadang-kadang tidak menyebutkan sumbernya, maka ulama hadits  terdorong untuk melakukan takhrij terhadap karya-karya tersebut. Pada saat itu muncullah kitab-kitab takhrij. Kitab yang pertama muncul adalah karya Al-Kathib Al-Baghdadi, namun yang terkenal adalah Takhrij Al-Fawaid Al-Muntakhabah Al-Shihah wa Al-Ghara’ib karya Syarif Abi Al-Qasim Al-Husaini, Takhrij Al-Fawaid Al-Muntakhabah Al-Shihah wa al-Ghara’ib karya Syarif Abi Al-Qasim Al-Muhammad ibn Musa Al-Hazimi Al-Syafi’i. Kitab Al-Muhdzdzab sendiri adalah kitab fikih mazhab Syafi’i yang yang disusun oleh Abu Ishaq Al-Syirazi.[14]

Usaha para ulama hadits pada akhirnya menghasilkan berbagai macam tentang prinsip-prinsip dan tata aturan takhrij, yang secara generatif melahirkan berbagai macam karya tulis yang kelak dinamai “Kutub al-Takhrij”, kitab-kitab yang tidak hanya berhasil mengembalikan matan pada transmisinya, tetapi pula menjelaskan aspek orisinalitas dan kualitas redaksional, bahkan bila dianggap diperlukan menerangkan pula kualitas transmisinya.

Secara kronologinya proses Takhrijul al-Hadits dalam perkembangannya melalui fase-fase berikut:

  1. Penyebutan hadits-hadits dengan sanad-nya masing-masing. Terkadang pengarang menitik beratkan pada masalah sanad atau terkadang pada masalah matan.
  2. Penyebutan hadits-hadits dengan sanad milik sendiri yang berbeda dengan suatu kitab terdahulunya. Sanad-sanad pada kitab kedua ini menambah kekuatan hukum tentang sanad kitab pertama dan dapat menambah redaksi matan.
  3. Setelah sunnah-sunnah Nabi terkempul dalam kitab-kitab besar, pengertian Takhrijul berarti penisbatan riwayat hadits kepada kitab-kitab yang ada beserta penjelasan kriteria-kriteria hukum hadits-hadits tersebut. Oleh karena itu pada masa kini dapat kita temui kitab-kitab takhrijul hadits tentang fiqih, tafsir, bahasa, tasawuf, dan lain sebagainya.[15]

Kitab-kitab induk hadits yang ada mempunyai susunan tertentu dan berada antara satu dan yang lainnya, yang dalam hal ini memerlukan cara tertentu secara ilmiah agar penelitian dan pencarian haditsnya dilakukan dengan mudah. Cara praktis dan ilmiah inilah yang merupakan kajian pokok ilmu takhrij.[16]

Menurut Mahdi, ilmu takhrij pada awalnya adalah berupa tuturan yang belum tertulis. Hal ini dimaksudkannya sebelum  munculnya kitab-kitab takhrij seperti Takhrij Al-Fawa’id Al-Muntakhabah karya Abu Qasim Al-Husayni, Takhrij Al-Muhadzdzab karangan Muhammad ibn Musa Al-Hazimi Al-Syafi’i, seperti yang telah disebutkan tadi.[17] Dan diantara kitab-kitab takhrij muncullah Kutub At-Takhrij (buku-buku takhrij), yang diantaranya adalah : Takhrij Ahaadits Al-Muhadzdzab; karya Muhammad bin Musa Al-Hazimi Asy-Syafi’I (wafat 548 H). Al-Muhadzdzab ini adalah kitab mengenai fiqih madzhab Asy-Syafi’i karya Abu Ishaq Asy-Syairazi. Takhrij Ahaadits Al-Mukhtashar Al-Kabir li Ibni Al-Hajib; karya Muhammad bin Ahmad Abdul-Hadi Al-Maqdisi (wafat 744 H). Nashbur-Rayah li Ahaadits Al-Hidyah li Al-Marghinani; karya Abdullah bin Yusuf Az-Zaila’i (wafat 762 H). Takhrij Ahaadits Al-Kasyaf li Az-Zamakhsyari; karya Al-Hafidh Az-Zaila’i juga. Ibnu Hajar juga menulis takhrij untuk kitab ini dengan judul Al-Kafi Asy-Syaafi fii Takhrij Ahaadits Asy-Syaafi. Al-Badrul-Munir fii Takhrijil-Ahaadits wal-Atsar Al-Waqi’ah fisy-Syarhil-Kabir li Ar-Rafi’i; karya Umar bin ‘Ali bin Mulaqqin (wafat 804 H). Al-Mughni ‘an Hamlil-Asfaar fil-Asfaar fii Takhriji maa fil-Ihyaa’ minal-Akhbar; karya Abdurrahman bin Al-Husain Al-‘Iraqi (wafat tahun 806 H). Takhrij Al-Ahaadits allati Yusyiiru ilaihat-Tirmidzi fii Kulli Baab; karya Al-Hafidh Al-‘Iraqi juga. At-Talkhiisul-Habiir fii Takhriji Ahaaditsi Syarh Al-Wajiz Al-Kabir li Ar-Rafi’i; karya Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqalani (wafat 852 H). Ad-Dirayah fii Takhriji Ahaaditsil-Hidayah; karya Al-Hafidh Ibnu Hajar juga. Tuhfatur-Rawi fii Takhriji Ahaaditsil-Baidlawi; karya ‘Abdurrauf Ali Al-Manawi (wafat 1031 H).

Hasbi Ash-Shidiqy mengatakan bahwa kegiatan Takhrij hadits telah muncul sejak abad ke-8 H. Namun pembukuan ilmu ini sebagai ilmu baru yang terkodifikasi baru pada akhir abad ke-14 H atau pada abad 20 M.[18]

Para sejarawan Islam secara berjamaah menyepakati bahwa usaha pelestarian dan pengembangan hadits terbagi dalam dua periode besar yaitu periode mutaqaddimin dan periode mutaakhirin.

Periode mutaqaddimin dibagi lagi menjadi beberapa tahap/masa yaitu, masa turunnya wahyu, masa khulafaurrasyidin (12-40 H), masa sahabat kecil dan tabi’in (40 H – akhir abad I H), masa pembukuan hadits (awal-akhir abad II H), masa pentashihan dan penyaringan hadits (awal-akhir abad III,) sekitar pada masa yang terakhir inilah Imam Bukhari menulis kitab yang terkenal dengan nama al-Jami’ al-Shahih (w. 256 H) disusul Imam Muslim (w.261 H).  Kalau para ulama mutaqaddimin menghimpun hadits dengan menemui sendiri para penghafalnya maka ulama mutaakhirin menukil dari kitab-kitab susunan ulama mutaqaddimin. Masa inilah para ulama mempergunakan sistem istidrak dan istikhraj. Sehingga bermunculan kitab-kitab mustadrak dan mustakhraj.

Pada abad kelima dan abad ke tujuh para ulama hanya berusaha untuk memperbaiki susunan kitab, mengumpulkan hadits Bukhari dan Muslim dalam satu kitab, mempermudah jalan pengambilannya. Dalam abad ini pula timbul istilah al-Jami’ al-Jawami dan al-Takhrij.[19]

Ilmu hadits baru berdiri sendiri sebagai sebuah ilmu pada masa al-Qadhi Ibnu Muhammad al-Ramahurmudzi (265-360 H). Selanjutnya diikuti oleh al-Hakim al-Naisaburi (321-405 H), Abu Bakr al-Baghdadi (463 H). Para ulama mutaqaddimin menyebutnya dengan ulumul hadits dan ulama mutaakhirin menyebutnya ilmu musthalahul hadits. Jadi kalau menganalisa kedua uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa setelah masa inilah muncul ilmu takhrij hadits sebagai bagian dari ilmu hadits.

Pada mulanya  pencarian hadits tidak didukung oleh  metode tertentu karena  memang tidak dibutuhkan. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa para ahli hadits mempunyai  kemampuan menghafal (ضابط)   dan itu yang menjadi alat  dan sekaligus  metode  pencarian  hadits bagi mereka. Ketika mereka membutuhkan hadits sebagai penguat dalam waktu singkat  mereka dapat menemukan  tempatnya  dalam kitab-kitab hadits bahkan jilidnya atau setidaknya mereka dapat mengetahuinya dalam  kitab-kitab hadits dengan dugaan kuat.

Kegiatan takhrij mengalami perkembangan seiring dengan perhatian ulama terhadap pemeliharaan hadits. Kegiatan takhrij al hadits pada awalnya berupa pencarian dengan mengeluarkan hadits dari ulama yang mengetahui suatu hadits atau beberapa hadits dari ulama yang memenuhi syarat sebagai periwayat hadits. Metode takhrij seperti ini  ditempuh oleh imam Bukhori, imam Muslim dan imam al-Sittah yang lainnya. Takhrij al-Hadits pada tahap pertama ialah dalam bentuk khusus, yaitu menelusuri satu persatu ulama yang memiliki hadits dari berbagi tempat.

Takhrij al-Hadits kemudian mengalami perkembangan sebagaimana yang telah  dilakukan  oleh imam Baihaqi, yaitu mengambil  hadits dari kitab hadits selain dari ulama secara langsung, kemudian beliau mengemukakan sanadnya sendiri.

Ibn hajar al-‘Asqalani memperluas jangkauan Takhrij al-Hadits sebagai upaya untuk menyusun hadits secara tematik dengan menumpulkan dan mengutip hadits-hadits yang semakna dari berbagai kitab hadits dengan menyebutkan mukharrijnya masing-masing dan sahabat yang meriwayatkannya. Hasil Takhrij al-Hadits ibn Hajar, diantaranya berjudul ‘Bulug al-Maram Min Adillah al-Ahkam’.

Takhrij al-Hadits yang sedang dikembangkan di masa sekarang ini adalah  identik dengan penelitian  kepustakaan,  yaitu mencari hadits dari berbagai  kitab  yang memuat berbagai hadits yang lengkap dengan  matan dan sanadnya.

Sudah banyak kitab-kitab takhrij yang berhasil disusun para tokoh-tokoh Hadits, walaupun masih terdapat kekurangan-kekurangannya, sebab belum dapat memberikan petunjuk-petunjuk bagaimana melakukan praktek takhrij secara sistematis. Pada abad terakhir ini muncul kitab-kitab takhrij yang berhasil disusun para tokoh hadits tergolong sistematis, seperti kitab Ushul al Takhrij wa Dirasat al Asanid, oleh Muhammad al Thahhan (1398 H/1978 M), kitab Turuq Takhrij Hadits Rasuli Shalla Allahu ‘alihi wa sallam, oleh Abu Muhammad Abdul Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi (1408 H/1987 M), dan kitab-kitab Takhrij lainnya.

  1. Metode dan Langkah-langkah Takhrij[20]

Secara garis besar ada dua cara dalam melakukan Takhrij al-Hadits, yaitu pertama, Takhrij al-Hadits dengan cara konvensional. Maksudnya adalah melakukan Takhrij al-Hadits dengan menggunakan kitab-kitab Hadits. Kedua, Takhrij al-Hadits dengan menggunakan perangkat komputer melalui bantuan CD-ROM dengan program aplikasi Takhrij al-Hadits.

Setidaknya ada lima metode yang dapat dipergunakan dalam kegiatan Takhrij al-Hadits secara konvensional. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri, meski tujuan akhir takhrij dengan metode-metode itu tetap sama, yaitu menentukan letak suatu Hadits dan menentukan kualitas Hadits tersebut. Kelima metode itu adalah:

Melalui pengetahuan tentang nama sahabat yang meriwayatkan “Rawi”.

Metode Takhrij al-Hadits melalui pengetahuan tentang nama sahabat perawi Hadits. Diantara kitab-kitab Hadits sumber, banyak yang ditulis dengan mengikuti sistem pengelompokan Hadits atas dasar nama sahabat yang meriwayatkannya. Mentakhrij Hadits dengan kitab-kitab semacam ini mutlak diperlukan pengetahuan tentang nama sahabat perawi Hadits itu. Ada tiga macam referensi yang dapat digunakan dalam menggunakan metode ini, yaitu:

  • Kitab-kitab al-musnad

Kitab musnad adalah kitab yang disusun pengarangnya berdasar nama-nama sahabat atau kitab yang menghimpun Hadits-hadits sahabat. Kitab musnad merupakan kitab-kitab Hadits yang disusun berdasar urutan nama-nama rawi pertama dengan mengumpulkan Hadits-hadits yang diriwayatkan satu kelompok. Kitab Hadits yang menganut sitematika penyusunan diantaranya yang mendasarkan pada urutan alfabetis, tetapi ada pula yang mendasarkan pada keutamaan, senioritas, kabilah, atau wilayah. Diantara kitab-kitab musnad adalah:

  • Musnad Abi Bakr Abd Allah Ibn al-Zubair al-Humaidy (w. 219 H).
  • Musnad Ahmad ibn HAnbal (w. 241 H)
  • Musnad Abi Ishaq Ibrahim Ibn Nashr
  • Musnad Abi Dawud Sulaiman ibn Dawud at-Thayalisiy (w. 204 H).
  • Musnad Asad ibn Musa al-Umawy
  • Musnad Abi Khaitsamah Zubair ibn Harb, dan sebagainya
  • Kitab-kitab al-Mu’jam

Kitab Mu’jam adalah kitab Hadits yang disusun berdasarkan nama-nama (musnad) sahabat, guru-gurunya, negaranya berdasarkan urutan alfabetis. Diantara kitab mujam yang disusun berdasarkan nama sahabat ialah:

  • Al-Mujam al-Kabir karya Abu al-Qasim Sulaiman ibn Ahmad al-Tabarani (w. 360 H).
  • Al-Mujam al-Ausat karya Abu al-Qasim Sulaiman ibn Ahmad al-Tabarani (w. 360 H).
  • Al-Mujam al-Sagir karya Abu al-Qasim Sulaiman ibn Ahmad al-Tabarani (w. 360 H).
  • Mujam al-Sahabah karya Ahmad ibn Ali ibn Lafie al-Hamdani (w. 398 H).
  • Mujam al-Sahabah karya Abu Yala Ahmad ibn Ali al-Mausili (w. 308 H).
  • Kitab-kitab al-athraf/ Atraf

Kata Atraf adalah bentuk jamak dari kata Tarf. Kata Tarful Hadits berarti bagian dari matan Hadits yang dapat menunjukkan keseluruhannya.

Diantara kitab-kitab al-Athraf yang penting adalah:

  • Athraf as-Shahihain karangan Abu Mas’ud Ibrahim ibn Muhammad al-Dimasyqiy (w. 401 H).
  • Al-Asyraf ‘ala Ma’rifati al-Asyraf karangan al-hafidh Abu Qasim ‘All ibn Hasan yang dikenal dengan Ibn ‘Asakir al-Dimasyqy (w. 671 H).
  • Tuhfat al-Asyraf bi Ma’rifati al-Asyraf atau Athraf al-Kittub as Sittah karangan Abu al-Hajjaj Yususf Abd al-Rahman al-Mizsy (w. 742 H).

Kelebihan-kelebihan metode ini:

  • Dapat diketahui dengan cepat semua Hadits yang diriwayatkan oleh sahabat tertentu dengan sanad dan matannya secara lengkap.
  • Diketemukan banyak jalan untuk matan yang sama.
  • Memudahkan untuk menghapal dan mengingat Hadits tertentu yang diriwayatkan oleh sahabat tertentu

Kekurangan-kekurangan metode ini:

  • Untuk menemukan Hadits tertentu yang diriwayatkan oleh sahabat tertentu membutuhkan waktu yang relatif lama, sebab pada umumnya sahabat tidak hanya meriwayatkan satu dua Hadits saja.
  • Metode ini tidak bisa digunakan jika nama sahabat yang meriwayatkannya tidak diketahui.
  • Mengetahui tentang lafal pertama Hadits “Atraf”.

Metode takhrij melalui pengetahuan tentang lafal pertama Hadits. Teknik ini dipakai apabila permulaan lafal Hadits dapat diketahui dengan cepat. Tanpa mengetahui lafal pertama Hadits yang dimaksud teknik ini sama sekali  tidak dapat digunakan. Jenis-jenis kitab yang dapat digunakan dengan metode ini dapat diklasifikasikan menjadi:

  • Kitab-kitab Hadits yang popular di masyarakat, seperti kitab al-Tazkirah fi al-Ahaditz al-Musytahirah karangan Badruddin Muhammad ibn Abd Allah as-Zarkasyi. Kitab jenis ini tentu saja terbatas Hadits-Haditsnya karena dikhususkan pada Hadits-Hadits yang populer dimasyarakat.
  • Kitab-kitab Hadits yang Hadits-Haditsnya disusun secara alfabetis. Kitab jenis ini yang paling banyak beredar adalah karangan Suyuthy (w. 911 H), yang berjudul al-Jami’ash-Shagir min AHadits al-Basyir an-Nazir.
  • Kunci-kunci dan indeks yang dibuat untuk kitab-kitab tertentu. Beberapa ulama telah membuat kunci-kunci daftar atau indeks bagi kitab-kitab Hadits tertentu dengan tujuan mempermudah mencari Hadits tertentu dalam kitab tersebut.

Kunci-kunci daftar atau indeks (kamus) yang disusun pengarangnya untuk kitab tertentu, diantaranya:

  • Untuk Shahih al-Bakhari, yaitu Hady al-Bari ila Tartib AHadits al-Bukhari.
  • Untuk Sahih Muslim, yaitu Mu’jam al-Alfaz wa la Siyyama al-Garib Minha.
  • Untuk al-Muwatta’, yaitu Miftah al-Muwatta.
  • Untuk Sunan Ibn Majah, yaitu Miftah Sunan Ibn Majah, dsb.

Kelebihan dan kekurangan metode ini adalah dengan metode ini kemungkinan besar kita dengan cepat menemukan Hadits-hadits yang dimaksud, sebab dengan mengetahui satu lafal saja kita dapat menelusuri hadits pada sumber aslinya, tetapi jika terjadi perbedaan lafal pertama meski hanya sedikit saja, akan berakibat sulit menemukan hadits.

Mengetahui tentang salah satu lafal Hadits “Alfadz”.

Dengan mengetahui sebagian lafal hadits, baik di awal, tengah maupun akhir matannya, kitab-kitab yang diperlukan atau referensi yang paling representative untuk metode ini yaitu kitab karya Arnold John Wensinck dengan judul al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Hadits al-Nawawi, dengan penerjemah Muhammad Fuad Abd al-Baqi. Kitab ini merupakan kitab kamus dari 9 kitab hadits, yakni sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan al-Tirmizi, Sunan al-Nasai,Sunan Ibn Majah, Sunan al-Darimi, al-Muwatta Imam Malik, dan Musnad Ahmad ibn Hambal.

Untuk Musnad Ahmad (حم) hanya disebutkan juz serta halamannya; Sahih Muslim (م) dan al-Muwatta (ط) nama bab dan nomor urut Hadits, sedangkan Sahih al-Bukhari (خ), Sunan Abu Dawud (د), Sunan al-Tirmizi (ت), Sunan al-Nasai (ن) serta Sunan Ibn Majah(جه), Sunan al-Darimi (دى) disebutkan nama bab serta nomor urut babnya.

Kelebihan metode ini:

  • Memungkinkan pencarian hadits melalui kata apa saja yang terdapat dalam matan hadits.
  • Mempercepat pencarian hadits, karena kitab takhrij ini menunjuk kepada kitab-kitab induk dengan menunjukkan kitab, nomor bab, atau nomor hadits, nomor juz, dan bahkan nomor halaman.

Kekurangan metode ini:

  • Adanya keharusan memiliki kemampuan bahasa Arab dan perangkat ilmu yang memadai, sebab metode ini menuntut untuk mengembalikan setiap kata kuncinya kepada kata dasarnya.[21]
  • Hanya merujuk kepada Sembilan kitab tertentu, sehingga bila lafaz hadits yang diketahui tidak diambil dari kitab-kitab tersebut maka hadits tersebut tidak ditemukan.
  • Metode ini tidak menyebutkan perawi dari kalangan sahabat. Untuk mengetahui perawi yang menerima hadits dari Nabi kita harus kembali kepada kitab aslinya.
  1. Mengetahui tentang tema hadits “Mawdhu’”.

Takhrij melalui pengetahuan tentang tema hadits. Teknik ini akan mudah digunakan oleh orang sudah bisa dan ahli dalam hadits karena yang dituntut dalam teknik ini  adalah kemampuan menentukan tema atau salah satu tema dari suatu hadits. Dalam mentakhrij dengan metode ini diperlukan kitab-kitab hadits yang tersusun berdasar pada bab-bab dan topik-topik. Kitab ini banyak sekali dan dapat dibagi tiga kelompok:

  • Kitab-kitab yang berisi seluruh tema agama, yaitu kitab-kitab al-Jawawi’ berikut dengan mustakhraj dan mustadraknya, al-majani’,al-zawaid, dan secara khusus kitab Miftah Kunuz as-Sunah.
  • Kitab-kitab yang berisi sebagian banyak tema-tema agama, yaitu kitab-kitab sunan, mushannaf, muwathta’, dan mustakhraj atas sunan.
  • Kitab-kitab yang berisi satu aspek saja dari tema agama, yaitu kitab-kitab yang khusus tentang hukum saja, tentang mengangkat tangan saja, dan lain-lain. Kitab-kitab ini bisaanya merupakan kitab-kitab juzu’, targhib dan tarhib, ahkam, zuhud, fadha’il, adab, dan akhlaq dan tema-tema khusus lainnya.

Kelebihan metode ini:

  • Dapat ditemukan banyak hadits dalam satu tema tertentu terkumpul pada satu tempat.
  • Metode ini mendidik ketajaman pemahaman hadits kepada peneliti. Dengan menggunakan metode ini beberapa kali seorang peneliti akan memiliki tambahan pengetahuan tentang fiqh al-Hadits.
  • Metode ini tidak memerlukan pengetahuan di luar hadits, seperti keabsahan lafal pertama, pengetahuan bahasa Arab dan perubahan-perubahannya, dan pengenal perawi pertama.

Kekurangan-kekurangannya:

  • Terkadang hadits sulit disimpulkan oleh peneliti sehingga tidak dapat menentukan temannya. Akibatnya tidak mungkin memfungsikan metode ini.
  • Terkadang pemahaman peneliti tidak sama dengan pemahaman penyusun kitab. Akibatnya ialah penyusun kitab meletakan hadits pada posisi yang tidak diduga oleh peneliti tersebut.[22]
  • Melalui pengetahuan tentang sifat khusus (karakteristik) sanad atau matan Hadits “al-Syifah”.[23]

Metode kelima dalam menelusuri hadits ialah dengan mengamati secara mendalam sanad dan matan hadits, yaitu dengan melihat petunjuk dari sanad, matan atau sanad dan matn-nya secara bersamaan. Petunjuk dari matn, misalnya ada kerusakan makna hadits, menyelisihi al-Qur’an ataupun petunjuk bahwa hadits itu palsu ataupun yang lainnya. Adapun kitab-kitab yang bisa menjadi rujukan adalah:

  • Al-Maudu at al-Sugra, karya Ali al-Qari (w. 1014 H).
  • Tanzih al-Syariah al-Marfuah an al-AHadits al-Syaniah al-Mauduah, karya al-Kinani (w.963 H)

Petunjuk yang lain dari matan yaitu bila diketahui matan hadits tersebut merupakan hadits qudsi. Kitab yang bisa dijadikan rujukan dalam hal ini adalah:

  • Misykah al-Anwar, karya Muhy al-Din Muhammad ibn Ali ibn Arabi al-Khatimi (w. 638 H).
  • Al-Ittihafat al-Saniyyah bi al-AHadits al-Qudsiyyah, karya Abd al-Rauf al-Munawi (w. 1031 H).

Petunjuk dari sanad, misalnya sanad yang rawinya meriwayatkan hadits dari anaknya. Kitab yang menjadi rujukan misalnya:

  • Riwayah al-Aba ‘an al-Aba karya Abu Bakr Ahmad ibn Ali al-Bagdadi.
  • Keadaan sanad Hadits yang musalsalah dengan kitab rujukan al-Musalsalah al-Kubra karya al-Suyuti
  • Keadaan sanadnya yang mursal dengan kitab rujukan al-Marasil karya Abu Dawud al-Sijistani dan karya al-Razi.

Petunjuk dari sanad dan matan secara bersamaan. Kitab yang bisa dijadikan rujukan adalah:[24]

  • Ilal al-Hadits karya Ibn Abi Hatim al-Razi.
  • Al-Asma al-Mubhamah fi al-Anba al-Muhkamah, karya al-Khatib al-Baghdadi.
  • Al-Mustafad min Mubhamat al-Matn wa al-Isnad, karya Abu Zurah Ahmad ibn Abd al-Rahim al-Iraqi.

Kelebihan dari metode ini adalah pada umumnya kitab-kitab hadits yang dapat dijadikan rujukan dengan metode ini memuat penjelasan-penjelasan tambahan dari penyusunnya. Adapun bahwa kekurangan dari metode ini memerlukan pengetahuan yang mendalam tentang keadaan sanad dan matan Hadits yang di takhrij, disamping itu kitab-kitab rujukan metode ini pada umumnya memuat Hadits yang jumlahnya sangat terbatas.

  1. Contoh Aplikasi Takhrij al-Hadits

Hadits Rasulullah Saw tentang diperbolehkannya seorang laki-laki memandang perempuan yang akan dinikahinya.

Matan Hadits yang relevan adalah:

اِذَاخَطَبَ اَحَدُكم المَرْآة فاِن اسْتَطَع انْ يَنْظُر اِلى ما يَدْعُو الى نِكاحِها فَلْيَفْعَلْ

Dengan melakukan penelusuran pada sumber asli, kita dapati informasi sebagaimana berikut ini :

  • Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ahmad (dua riwayat), al-Hakim, dan lain-lain.

Sanad yang dimiliki Abu Dawud:

عن واقد بن عبد الرحمن يعني ابن سعد حدثنا مسدد ثنا عبدالواحد بن زياد ثنا محمد بن اسحاق عن دود

بن حصين بن معاذ عن جابر بن عبد الله

Sanad yang dimiliki Ahmad

حدثنا يونس بن محمد ثنا عبدالواحد بن زياد ثنا محمد بن اسحاق عن داوود بن الحصين عن واقد بن

عبد الرحمن بن سعد عن جابر

Dan sanad yang dimiliki al-Hakim:

اخبرني ابوبكر محمد بن عبدالله بن قريش ثنا الحسن بن سفيان ثنا محمد بن ابي بكر المقدمي اخبرني عمر

بن على بن مقدم ثنا محمد بن اسحاق عنداوود بن الحصين عن واقد بن عمر بن معاد عن جابر

  • Ibn Ishaq meriwayatkan Hadits dari Dawud bin Husayn (atau al-Husayn) dengan ungkapan ’an (riwayat ’an’anah) sementara Ibn Ishaq ini adalah perawi mudallis yang mengindikasikan adanya keterputusan sanad. Yang demikian ini terdapat dalam riwayat Abu Dawud, Ahmad (dalam salah satu riwayat), dan al-Hakim.

Sementara dalam satu riwayat lain yang dimiliki Ahmad kita dapati Ibn Ishaq meriwayatkannya dari Dawud dengan ungkapan haddatsani sehingga ’an ’Anah-nya hilang, yang secara otomatis menghilangkan kesan keterputusan sanad

  • Dalam sanad Abu Dawud dan Ahmad (salah satu riwayatnya) menyatakan bahwa yang menerima periwayatan dari Jabir adalah Waqid bin ’Abdurrahman. Hal ini membuat Ibn al-Qattan menilai adanya ’illah karena seharusnya Hadits ini diriwayatkan oleh Waqid bin ’Amr.

Dengan melihat sanad yang dimiliki al-Hakim dan Ahmad (riwayat yang satunya) didapati bahwa yang menerima periwayatan ini dari Jabir adalah Waqid bin ’Amr, sehingga penilaian dha’if dari Ibn al-Qattan terhadap hadits ini dapat dinafikan.

  • Dalam salah satu riwayat Ahmad didapati keterangan tambahan bahwa Dawud bin al-Husayn adalah mawla ’Amr bin Utsman.
  • Pencabangan sanad terjadi setelah Dawud, sementara perawi di atasnya hanya memiliki satu jalur, yaitu Waqid dan Jabir.
  • Dengan adanya pencabangan sanad, maka kekuatan hadits bertambah karena semakin banyak pihak yang meriwayatkan sebuah hadits, maka validasi dan keotentikannya semakin kuat
  • Dalam sebagian riwayat dinyatakan bahwa kebolehan memandang perempuan yang hendak dinikahi, hanya boleh kepada sebagian tubuhnya. Sementara dalam riwayat yang lain dinyatakan secara mutlak (seluruh anggota tubuhnya). Teori dasar penetapan hukum adalah jika ada nash yang bersifat mutlak atau umum dan ada nash yang bersifat khusus, maka yang digunakan adalah nash yang khusus. Sehingga kebolehan memandang perempuan ini hanya berlaku pada sebagian anggota tubuhnya.

Secara singkat takhrij hadits dapat mengumpulkan berbagai sanad dari sebuah hadits serta mengumpulkan berbagai redaksi dari sebuah matan hadits.

Berikut adalah contoh kegunaan dari Takhrij al-Hadits :

Lafal sebuah hadits :

رُوِيَ عَنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعَبْةَ قَالَ: وَضَأْتُ النَّبِى صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِى غَزْوَةِ تَبُوْكَ فَمَسَحَ اَعْلَى الْحُفَّيْنِ وَاَسْفَلَهُمَا

Bila kita menggunakan metode takhrij, maka akan tampak hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah. Setelah ditakhrij pada masing-masing kitab, maka hadits tersebut lengkapnya berbunyi :

Menurut riwayat Imam Turmudzi :

حَدَثْنَا اَبُو الْوَلِيدِ اَلدِّمَشْقِىُّ حَدَّثْنَا الْوَلِيْدُ بْنُ مُسْلِمٍ اَخْبَرَنَا ثَوْرُ بْنُ يَزِيْدَ عَنْ رَحَاءِ حَيْوَةَ عَنْ كَاتِبِ الْمُغِيْرَةِ عَنْ

الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ اَنَّ النَّبِي صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسَحَ اَعْلَى الْحُفِّ وَاَسْفَلِهِ

Menurut riwayat Imam Abu Dawud :

حَدَّثْنَا مُوْسَى بْنُ مَرْوَانَ وَمَحْمُوْدُ بْنُ خَالِدٍ اَلدِّمَشْقِىُّ اَلْمَعْنَى قَالاَحَدَّثَنَا اَلْوَلِيْدُ – قَالَ مَحْمُوْدٌ – قَالَ اَخْبَرَنَا ثَوْرُبْنُ

يَزِيْدَ عَنْ رَحَاءَ بْنِ حَيْوَةَ عَنْ كَاتِبِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ وَضَأْتُ النَّبِي صَلَّى الله عَلَيْهِ

وَسَلَّمَ فِى غَزْوَةِ تَبُوْكَ فَمَسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ وَاَسْفَلِهِمْ

 

Menurut riwayat Imam Ibnu Majah :

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُمَارٍ, ثَنَا الْوَلِيْدُ بْنُ مُسْلِمٍ, ثَنَّا ثَوْرُبْنُ يَزِيْدَ, عَنْ رَحَاءَ بْنِ حَيْوَةَ , عَنْ وَرَّادٍ-كَاتِبِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ

شُعْبَةَ-عَنْ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ اَنَّ الرَّسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَعْلَى الْحُفِّ وَاَسْفَالِهِ

Dengan memperbandingkan ketiga riwayat di atas, maka kita dapat mengetahui :

Hadits di atas diriwayatkan oleh tiga ulama hadits yaitu Imam Turmudzi, Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah.

Pada riwayat Abu Dawud terdapat nama perawi yang samar, yaitu al-Walid. Riwayat Turmudzi dan riwayat Ibnu Majah menjelaskan nama yang sebenarnya yaitu al-walid bin Muslim.

Katib Mughirah tidak diketahui nama yang sebenarnya pada riwayat Abu Dawud dan Turmudzi. Pada riwayat Ibnu Majah Katib Mughirah yang dimaksud adalah Warrad. Menurut Ibnu Hazam, Katib Mughirah adalah perawi yang tidak diketahui namanya. Ini karena Ibnu Hazam, mungkin tidak ingat bahwa ada riwayat Ibnu Majah yang menjelaskan nama yang sebenarnya. Warrad diriwayatkan oleh banyak ulama hadits. Ibnu Hibban menggolongkannya pada kelompok tsiqat.

Setelah Imam Turmudzi meriwayatkan hadits ini, beliau mengatakan bahwa hadits ini adalah ma’lul, karena tidak seorangpun yang meriwayatkan dari Tsaur bin yazid selain Walid bin Muslim. Lalu beliau menanyakannya kepada Abu Zur’ah dan Imam Bukhari. Keduanya mengatakan hadits ini tidak shahih, karena Ibnu Mubarak meriwayatkannya dari Tsaur, dari Roja’ bin Haywah, beliau berkata “saya menerima riwayat dari Katib Mughirah, dari Nabi Saw. Jadi hadits ini mursal, karena Mughirah tidak disebut dalam sanad tersebut.

Riwayat Abu Dawud menjelaskan sejarah timbulnya hadits ini yaitu pada waktu peperangan Tabuk.[25]

Contoh yang lain adalah Hadits tentang “Syafaat Nabi Saw bagi orang yang berdosa besar”, bunyi teks Haditsnya adalah:

 

قاَلَ رَسُوْ لُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِمِنْ أُمَّتِي

Setelah dilakukan kegiatan Takhrij al-Hadi, hadits di atas bersumber dari:

  • Al-Tirmizi, kitab Sifah al-Qiyamah wa al-Raqaiq wa al-Wara an Rasulillah, no Hadits. 2360 dan 2359:

حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ

عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

وَفِي الْبَاب عَنْ جَابِ

Telah menceritakan kepada kami al-Abbas al-Ambari telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq dari Ma’mar dari Tsabit dari Anas berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Syafaatku untuk pemilik dosa-dosa besar dari ummatku”. Berkata Abu Isa, Hadits ini Hasan Shahih Gharib melalui sanad ini dan dalam hal ini ada Hadits serupa dari Jabir.

(HR. Al-Tarmizi: No. 2360).

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ , قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي , قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ

عَلِيٍّ فَقَالَ لِي جَابِرٌ يَا مُحَمَّدُ مَنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ فَمَا لَهُ وَلِلشَّفَاعَةِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ يُسْتَغْرَبُ مِنْ حَدِيثِ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Abu Daud Ath Thayalisi dari Muhammad bin Tsabit Al-Bunani dari Ja’far bin Muhammad dari Bapaknya dari Jabir bin Abdullah berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Syafaatku untuk ummat ku yang berbuat dosa-dosa besar”. Muhammad bin Ali berkata: kemudian Jabir berkata kepadaku: wahai Muhammad yang tidak melakukan dosa besar tidak lagi membutuhkan syafaat Abu Isa Berkata, Hadits ini Hasan Gharib dari jalur sanad ini dan dianggap gharib dari Hadits Ja’far bin Muhammad. (HR. Al-Tarmizi: No. 2359).

  • Ibn Majah, kitab al-Zuhd, no. Hadits 3112

حدثنا عبد الرحمن بن إبراهيم الدمشقي . ثنا الوليد بن مسلم . ثنا زهير بن محمد عن جعفر بن محمد عن أبيه عن

جابر قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ( إن شفاعتييوءم القيامة لأهل الكبائر من أمتي ) .

قال الشيخ الألباني : صح

Abdul Rahman bin Ibrahim Damaskus. Sunan Walid bin Muslim. Tna Zuhairbin Mohammed Jaafar bin Muhammad dari ayahnya dari Jabir berkata: mendengar Rasulullah dan Saw mengatakan: “Sesungguhnya syafa’atku pada hari kiamat adalah untuk para pelaku dosa besar dari ummat ku”. Syaikh al-Albani mengatakan: Hadits ini Shahih

  • Abu Dawud, kitab al-Sunnah, no. Hadits 4739.

حدثنا سليمان بن حرب ثنا بسطام بن حريث عن أشعث الحداني عن أنس بن مالك : عن النبي صلى الله

عليه و سلم قال ” شفاعتي لأهل الكبائر من أمتي ” .قال الشيخ الألباني : صحيح

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb berkata, telah menceritakan kepada kami Bastham bin Huraits dari Asy’ats Al Huddani dari Anas bin Malik dari Nabi Saw, beliau bersabda: “Syafaatku berlaku untuk pelaku dosa besar dari ummat ku”. Berkata Syaikh Al-Bani, Hadits ini Shahih.

  • Ahmad ibn Hanbal, bab Baqi Musnad al-Muksiri, no. Hadits 13245.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا سليمان بن حرب ثنا بسطام بن حريث عن أشعث الحراني عن أنس بن مالك قال

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : شفاعتي لأهل الكبائر من أمتي تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb, telah menceritakan kepada kami Bistham bin Huraits, dari Asy’asy Al-Harrani, dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Syafaatku adalah untuk pelaku dosa besar dari umatku”. Syaikh Arna’oot mengatakan Hadits ini sanadnya Shahih.

 

 C. KESIMPULAN

Takhrij al-Hadits merupakan kegiatan penelitian tentang hadits baik dari segi sanad, rowi, maupun matan hadits. Ketika semangat belajar mereka melemah mereka kesulitan untuk mengetahui tempat-tempat hadits yang dijadikan sebagai rujukan para ulama syar’i. Maka sebagian ulama bangkit dan memperlihatkan hadits-hadits yang ada pada sebagian kitab dan menjelaskan sumbernya dari kitab Sunnah yang asli, menjelaskan metodenya, dan menerangkan hukumnya dari yang Shohih atas yang Dho’if. Lalu muncullah apa yang dinamakan dengan “Kutub At-Takhrij-Buku-buku Takhrij”.

Takhrij al-Hadits mempunyai tujuan yaitu meneliti dan menjelaskan tentang hadits dengan menyebutkan para periwayat dalam sanad hadits tersebut, mengeluarkan manfaat takhrij hadits sangat besar terutama bagi orang yang mempelajari hadits dan mendalami Ulumul Hadits. Kitab yang diperlukan ketika melakukan Takhrij Hadits diantaranya yaitu Hidayatul Bari ila Tartibi Ahaditsil Bukhori, Mu’jam AlFadzi wala Siyyama al-Garibu Minha atau Fahras li Tartibi Ahaditsi Sokhikh Muslim, Miftahus Shokhihain, al-Bughyatu fi Tartibi Ahaditsi al-Hiyah al-Jamius Shogir, al Mu’jam al Mufahras li al Alfadzi Hadits Nabawi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Abu Muhammad Abdul Mahdi bi Abdul Qadir bi Abdul Hadi, Metode Takhrij Hadits; diterjemahkan dari Bahasa Arab Thuruq Takhrij Hadits Rasulillah Saw oleh H.S. Agil Husin Munawwar, (Semarang: Dina Utama, 1994)

Khusniati Rofiah, Studi Ilmu Hadits, (Yogyakarta: STAIN PO Press Ponorogo, 2010)

Agus Salahudin, Ulumul Hadits, (Bandung: Pustaka Setia, 2008)

Nawir Yuslem, Sembilan Kitab Induk Hadits, (Jakarta: Hijri, 2006)

Muhammad Ma’shum Zein, Ulumul Hadits & Musthalah Hadits, (Jombang : Al-Syarifah Al-Khodijah, 2006)

Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadits Nabi, (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), cet I

Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2003)

Mahmud al-Thahhan, Hal ini ditandai antara lain dengan munculnya karya Mahmud ath-Thahhan dengan judul Ushul at-Takhrij wa Dirasah al-Asanid yang cetakan kelimanya diterbitkan pada tahun 1983

Octoberrinsyah, Al-Hadits, (Yogyakarta : Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2005)

Sohari Sahrani, Ulumul Hadits, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010)

Syaikh Manna’ Al-Qaththan, Pen. Mifdhol Abdurrahman, Pengantar Studi Ilmu Hadits, (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2005), cet I

Teungku Muhammad Hashbi Ash Shidqi, Sejarah & Pengantar Ilmu Hadits, (Semarang :Pustaka Rizki Putra, 2009)

Zeid B. Smeer, Ulumul Hadits, (Malang: UIN-Malang Press, 2008)

[1] Dosen Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Ma’arif NU (IAIM NU) Metro Lampung

[2] Octoberrinsyah, Al-Hadits, (Yogyakarta : Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2005), h. 128

[3] Syaikh Manna’ Al-Qaththan, Pen. Mifdhol Abdurrahman, Pengantar Studi Ilmu Hadits, (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2005), cet I, h. 189. Baca juga, Teungku Muhammad Hashbi Ash Shidqi, Sejarah & Pengantar Ilmu Hadits, (Semarang :Pustaka Rizki Putra, 2009), h. 148

[4] M. Agus Salahudin, Ulumul Hadits, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), h. 189

[5] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadits, (Malang: UIN-Malang Press, 2008), h. 11. Baca juga, Khusniati Rofiah, Studi Ilmu Hadits, ( Yogyakarta: STAIN PO Press Ponorogo, 2010), h.166

[6] Nawir Yuslem, Sembilan Kitab Induk Hadits, (Jakarta: Hijri, 2006), h. 153.

[7] Muhammad Ma’shum Zein, Ulumul Hadits & Musthalah Hadits, (Jombang : Al-Syarifah Al-Khodijah, 2006), h. 283 & 284. Baca juga, Abu Muhammad, Metode Takhrij Hadits, (Semarang: Bina Utama, 1994), h. 2

[8] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadits Nabi, (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), cet I, h. 41-42.

[9] Syaikh Manna’ Al-Qaththan, ibid. h. 205

[10] Abu Muhammad Abdul Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi. Metode Takhrij Hadits; diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Said Agil Husin Munawwar, (Semarang: Dina Utama, 1994), h. 4-10

[11] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadits, h. 171

[12] Ibid., h. 172

[13] Sohari Sahrani, Ulumul Hadits, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), h. 188.

[14] Ibid., h. 189.

[15] Ibid.

[16] Ibid.

[17] Ibid.

[18] Octoberrinsyah, Al-Hadits, h. 132-133

[19] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2003). h.36

[20] Abu Muhammad Abdul Mahdi bi Abdul Qadir bi Abdul Hadi, Metode Takhrij Hadits; diterjemahkan dari Bahasa Arab oleh H.S. Agil Husin Munawwar, (Semarang: Dina Utama, 1994). h. 195. Baca juga, Khusniati Rofiah, Studi Ilmu Hadits, (Yogyakarta: STAIN PO Press, 2010), h. 169-176.

[21] Mahmud al-Thahhan, Hal ini ditandai antara lain dengan munculnya karya Mahmud ath-Thahhan dengan judul Ushul at-Takhrij wa Dirasah al-Asanid yang cetakan kelimanya diterbitkan pada tahun 1983, h. 59-70. Juga Abu Muhammad, h.17

[22] Abu Muhammad, Metode Takhrij Hadits, (Semarang: Bina Utama, 1994), h. 120

[23] Abu Muhammad, ibid., h.15

[24] Metode Takhrij Hadits, ibid., h. 60

[25] Abu Muhammad Abdul Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi, Thuruq Takhrij Hadits Rasulillah Saw, (Semarang: Dina Utama Semarang, 1994)

Advertisements