nikahالـــــــزواج المـــــــبكر

PERNIKAHAN DINI

A. Muslimin

PENGANTAR

Pernikahan anak dibawah umur adalah pernikahan sebelum baligh, karena baligh sebagai pembatas antara antara anak-anak dan dewasa.

Sebagaimana Sabda Rasul Saw :

رفع القلم عن ثلاثة : عن النائم حتى يستيقظ وعن الصبي حتى يحتلم وعن المجنون حتى بعقل (ابو داود)

Sedangkan anak dalam istilah syara’ adalah seseorang yang belum baligh baik dengan cirri-ciri secara fisik atau dengan batasan usia.

Ciri-ciri sering muncul lebih dulu disbanding dengan batasan usia, jika baligh yang didasarkan dengan ciri-ciri fisik belum tampak maka dihukumi dengan baligh didasarkan kepada batasan usia yaitu 15 tahun menurut madzhab Jumhur dan bukan sebagaimana pendapat lain bahwa batasannya dalah dibawah 18 tahun.

Jadi jelaslah bahwa nikah dibawah umur (الصغار) adalah nikah yang belum baligh sedangkan nikah dini (المبكر) adalah nikah yang sudah baligh.

Oleh karena itu akan dibahas tentang nikah dibawah umur dalam beberapa pembahasan.

 

PERTAMA

BALIGH

Sebagai Pembatas antara Pernikahan Anak dibawah Umur dan Pernikahan Dini

Tanda-tanda baligh bagi anak dibagi menjadi dua :

  1. Baligh dengan ciri-ciri fisik
  2. Bermimpi (jima’) dan keluar mani
  3. Menurut Imam Malik : adanya tanda perubahan pada suara
  4. Tumbuhnya rambut
  5. Haid
  6. Hamil
  7. Baligh dengan batasan usia

Jika tanda-tanda diatas sudah muncul maka dihukumi baligh. Yang menjadi perdebatan adalah jika munculnya tanda tersebut terlambat, maka anak tersebut akan dihukumi dengan batasan usia.

Para ulama berbeda pendapat tentang hal tersebut :

  1. Jumhur ulama berpendapat bahwa usia baligh untuk laki-laki dan perempuan adalah 15 tahun, didasarkan pada hadits dari Abdullah bin Umar RA. Berkata :”Saya menghadap Rosul Saw untuk ikut perang uhud dalam usia 14 tahun dan Rosul tidak mengizinkan. Dan saya menghadap untuk ikut perang khondak pada usia 15 tahun dan Rosul mengizinkan. (HR. Muslim).
  2. Abu Hanifah dan Malikiyah berpendapat bahwa usia baligh bagi laki-laki adalah 18 tahun dan perempuan 17 tahun, didasarkan pada makna dari baligh adalah lengkap dan sempurna dan ini tidak bisa tercapai kecuali pada usia tersebut.

Intinya adalah bahwa baligh tidak hanya didasarkan pada batasan usia kecuali jika tidak tampak tanda-tanda fisik.

  1. Batasan Usia Baligh

Tidak ada batasan usia baligh secara mutlak karena ada yang baligh pada usia 9, 13, 14, 15 tahun dan ini tidak diperdebatkan.

Jika batasan usia untuk baligh tidak ada, maka dzalim jika pernikahan dibatasi dengan usia.

Misalnya : jika baligh dan nikah dibatasi dengan usia 17 tahun, bagaimana bagi seseorang yang sudah baligh secara fisik tetapi belum berusa 17 tahaun? Ini sebuah kedzaliman, bagaimana mungkin seseorang dilarang menikah sedangkan itu sudah waktunya dan ini berbenturan dengan perintah untuk bersegera menikah bagi pemuda yang sudah mampu.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim :

يا معشر الشباب من استطاع الباءة فليتزوج فإنه اغض للبصر واحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء

Bahwa mencegah pernikahan sebelum usia pernikahan maksudnya adalah untuk mengosongkan diri dari syahwat dan sesuatu keharaman. Hal ini terjadi di Negara-negara non muslim yang melarang pernikahan sebelum usia mencapai 18 tahun dan berbenturan dengan fitrah manusia dan mereka melegalkan hubungan intim diusia berapapun dan ini adalah hak mereka.

Sedangkan hukum syari’ah Islam mengedepankan aspek keadilan dan kesempurnaan, oleh karena itu syari’ah melindungi fitrah manusia dan membolehkan nikah dibawah umur dengan ketentuan secara syar’i dan inilah keadilan yang membolehkan pernikahan dengan batasan baligh secara fisik dan bukan batasan baligh dengan ketentuan usia.

 

KEDUA

HUKUM NIKAH DIBAWAH UMUR

Pernikahan dibawah umur diperbolehkan secara syara’ didasarkan kepada :

  1. Al-Qur’an

(QS. Al Thalaq : 4)

Bahwa Allah Swt menjadikan wanita-wanita yang belum haid, menikah, talak dan iddah. Ayat tersebut menjelaskan tentang iddah talak. Talak tidak mungkin terjadi  jika tidak ada pernikahan, dan iddah talak tidak mungkin terjadi jika istri belum berhubungan.

Oleh karena itu, makna والئ لم يحض adalah iddahnya juga 3 bulan, dan maksud dari والئ لم يحض adalah anak-anak perempuan yang belum baligh sebagaimana seseorang yang beralasan terlambat dating haid. Hal ini disepakati oleh ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqh, ahli bahasa dan mereka tidak mengatakan : “anak-anak perempuan yang belum berhubungan”.

والئ isim maushul bagian dari lafadz umum menurut ahli ushul, maka ayat bermakna umum meliputi semua wanita yang belum haid.

(QS. An Nisa’ : 3)

Aisyah RA menafsirkan ayat tersebut ketika ditanya oleh ‘Urwah bin Zubair tentang makna ‘Yatim’, yatim adalah seseorang yang belum baligh, dan hadits Aisyah membolehkan menikah dengan yatim dalam menjelaskan ayat, ini menunjukkan bahwa menikah dengan wanita belum baligh diperbolehkan.

  1. Al-Sunnah

(HR. Bukhari Muslim)

Dari Aisyah RA berkata : “Rasul Saw menikahi saya pada usia 6 tahun dan menggauli saya pada usia 9 tahun”. Hadits ini menunjukkan diperbolehkannya menikahi anak dibawah umur.

  1. Ijma’

Disepakati oleh ahlul ‘ilm, Ibn Mandzur, Ibn Battal, Ibn Qadamah, Nawawi, Ibn Hamam, Al Mahdi, Ibn Hajar,Ibn Hirrah, Ibn Rusd dan lainnya bahwa diperbolehkan menikah dibawah umur dengan ketentuan yang menikahkan adalah bapaknya.

  1. Perbuatan Sahabat

Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, Ali bin Abi Thalib, Zubair, Ibnu Mas’ud, Qadamah membolehkan bapak menikahkan anaknya yang kecil.

Abu Bakar menikahkan putrinya Aisyah dengan Rasul Saw dan Ali bin Abi Thalib menikahkan putrinya Umi Kulsum dengan Umar ibn Khattab

Jadi sah hukumnya pernikahan anak dibawah umur didasarkan pada dalil-dalil Al-Qur’an, Al-Sunnah dan Ijma’ tersebut.

 

KETIGA

KETENTUAN NIKAH BAWAH UMUR

 Hukum Islam dibangun atas dasar mengambil kemaslahatan dan mencegah kerusakan dan Islam merupakan rahmad untuk semua.

Ketentuan sah pernikahan dibawah umur

  1. Tidak sah tanpa seizing bapak dan kakek
  2. Tidak boleh bersetubuh kecuali sudah memungkinkan/maslahat
  3. Wali harus membawa kemaslahatan
  4. Jika terjadi perbedaan dan tidak terdapat kemaslahatan maka hakim boleh membatalkan pernikahan
  5. Suami mampu memelihara kemaslahatan
  6. Tidak menikahkan anak-anak kepada kerusakan dan mudharat seperti kepada orang buta dan orang yang sudah tua
  7. Tidak ada permusuhan antara anak dan orang tua

 

KEEMPAT

HIKMAH PERNIKAHAN DIBAWAH UMUR

  1. Menjalin hubungan dengan keluarga baik-baik
  2. Tidak kehilangan kesempatan dalam hal kafa’ah
  3. Bisa menemukan orang yang tepat.

 

KELIMA

PROSES LARANGAN PERNIKAHAN DINI DI YAMAN

  1. Materi undang-undang hukum keluarga khusus tentang pernikahan dibawah umur, yaitu ayat 15. Akad yang dilakukan oleh wali sah, akan tetapi tidak dimungkinkan untuk berhubungan kecuali ada kemaslahatan walau usia sudah mencapai atau melebihi usia 15 tahun.
  2. Permintaan dari CEDAW untuk untuk melarang pernikahan dini dan disetujui oleh pemerintah dengan ketetapan UU Yaman tertanggal 6-3-2009.
  • Diadakan kongres wanita Yaman yang diikuti 500 orang dai berbagai unsure dipimpin oleh Rasyidah Hamdani dan dibuka oleh Ali Muhammad Majar, inti pertemuan adalah penyesuaian “UU Perempuan” terutama ayat 15 tentang pernikahan dibawah umur.
  1. Setelah diadakan penyesuaian pada ayat 15 dan disetujui oleh pemerintah yang diwakili oleh perdana menteri dan kemudian akan diajukan ke DPR :
  • Tidak boleh menikahkan anak dibawah usia 18 tahun kecuali ada kemaslahatan yang ditetapkan oleh hakim
  • Dihukum dengan kurungan tidak lebih dari 6 bulan atau denda tidak lebih dari 100.000 riyal bagi pelanggar UU dan mereka mengetahui bahwa salah satu dari pasangan belum mencapai usia yang ditentukan
  • Dihukum dengan kurungan tidak lebih dari 6 bulan atau denda tidak lebih dari 50.000 riyal bagi yang memaksakan pelaksanaan akad atau yang melihat/saksi, jika salah satu belum mencapai usia yang ditentukan.

Hal ini diajukan ke DPR, MPR namun ditolak karena bertentangan dengan hukum Islam dan Undang-undang sebelum anak mencapai usia 18 tahun dengan pertimbangan :

  • Dewan perlindungan anak hadir 2x ke DPR
  • Hadir perwakilan persatuan perempuan Yaman, Dewan Wanita, Ikatan Anti Kekerasan Wanita Yaman untuk menemui DPR
  • Mengadakan pertemuan/seminar antara DPR dan organisasi-organisasi wanita dan menghasilkan keputusan untuk menolak pernikahan dini dengan ketentuan sebagai berikut :
    • Menentukan batas minimal usia
    • Menghilangkan bahaya akibat pernikahan dini
    • Membangun organisasi persatuan perempuan
  1. Penjelasan dan masukan-masukan dari berbagai unsur
  • Ketua dewan perempuan
  • Ketua persatuan anti kekerasan perempuan Yaman
  • Dewan perlindungan anak
  • Ketua umum persatuan organisasi sosial
  1. Demontrasi yang dilakukan oleh sekelompok wanita didepan DPR dan mengajukan permintaan tentang larangan pernikahan sebelum usia 18 tahun
  2. Kerjasama antar dewan pers baik televisi, Koran dan chanel-chanel lainnya

 

KEENAM

FATWA ULAMA YAMAN

Ulama-ulama terkemuka Yaman mengajukan beberapa fatwa berkenaan dengan pernikahan dibawah umur pada DPR, diantaranya :

  1. Melarang pernikahan dibawah usia 18 tahun
  2. Menyulitkan persaksian dan penulisan jika terjadi hukuman yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum

Penjelasanya :

  1. Larangan pernikahan dibawah usia 18 tahun bagi perempuan :
  • Bertentangan dengan QS. Al Thalaq : 4.
  • Bertentangan dengan Hadits Riwayat Muslim dari Aisyah RA
  • Bertentangan dengan perbuatan sahabat

Adapun larangan pernikahan dibwah usia 18 tahun bagi laki-laki :

  • Qiyas dengan larangan bagi perempuan yang ditetapkan dengan nash
  • Hukum asal dari sesuatu adalah bebas dan boleh selama belum ada dalil yang melarangnya
  • Ijma’ yang dinukil oleh Ibnu Rusdy
  1. Larangan hukum kurungan dan denda karena bertentangan dengan al-Qur’an Surat al-Baqarah : 282, ولا يضار كاتب ولا شهيد ” “

Sebagaimana penjelasan diatas, membatalkan semua hal yang bertentangan dengan hukum Islam, oleh karena itu ayat 15 tetap sebagaiman asalnya.

 

KETUJUH

PENDAPAT DEWAN HUKUM ISLAM 

  1. Ayat 15, tidak menyebut/menjadikan pernikahan dibawah umur wajib/sunah, tetapi sebagai hukum boleh
  2. Ayat tersebut mensyaratkan yang berakad adalah ayah dan kakek
  3. Ayat tersebut membedakan sahnya akad dengan berhubungan, maka akadnya sah dan melarang berhubungan sampai ada kemaslahatan
  4. Ayat tersebut mewajibkan wali untuk tidak mengajukan pernikahan kecuali ada kemaslahatan
  5. Ayat tersebut juga mewajibkan wali untuk menikahkan yang sederajat untuk menjaga hal-hal yang tidak baik seperti, buta, tua, tidak seagama, berakhlak tidak baik
  6. Ayat tersebut member kesempatan untuk melanjutkan atau membatalkan akad jika tidak menginginkan hal tersebut
  7. Ayat ersebut juga di bagi 2 alinea, alinea (b) khusus hukuman wali/suami jika bertentangan/melanggar alinea (a), tidak ada niat buruk dari wali/suami terhadap pernikahan dibawah umur. Demikian juga alinea (b) tidak menggugurkan hak istri jika terjadi kerusakan dan mewajibkan pengganti/denda.

Inilah jaminan dan antisipasi demi kemaslahatan dan mencegah kerusakan dan inilah solusi hukum.

Advertisements