Biografi Al-Syatibisyatiby

Oleh : A. Muslimin

Sejarah hidup al-Syatibi tidak banyak diketahui oleh banyak penulis biografi, untuk mendapatkan gambaran kesejarahan yang lebih utuh tentang tempat tinggal dan perkembangan ilmu pengetahuan al-Syatibi lebih baik dipaparkan penelusuran sejarah singkat tentang masuk, berkembang dan hancurnya Islam di Spanyol. Penelusuran kesejarahan ini penting. Sebab, suatu temuan keilmuan oleh seorang tokoh sering kali merupakan hasil dari suatu proses komulasi temuan-temuan sebelumnya. Kemunculan seorang tokoh tidak terlepas dari pengaruh lingkungan di sekitar baik pada masanya maupun masa sebelumnya.

Islam menguasai Spanyol kurang lebih 8 abad (711-1492 M).[1] Spanyol secara resmi menjadi daerah Islam adalah setelah berhasilnya futuhat (ekspansi-ekspansi) dan raja Roderik beserta tentaranya menyerah kalah dan Cordova kemudian menjadi ibukota Spanyol Islam.[2] Dalam kurun delapan abad penguasaan Islam di Spanyol, banyak kemajuan pada masa Abdullah al-Rahman al-Dakhil, dengan berdirinya daulah Umayyah Spanyol yang terpisah dari kekuasaan Bani Abbas di Bagdad pada tahun 756 M.[3]

Berbicara tentang kenyataan kehidupan syari’at yang berkembang di Spanyol, madzhab imam Malik berkembang lebih dominan di banding dengan madzhab-madzhab hukum yang ada. Perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan sangat dipenarhi oleh kecenderungan penguasa tidak terkecuali dalam hal ilmu syari’at. Kemajuan ilmu ini juga ditopang oleh perpindahan sejumlah ulama dari Timur ke Andalusia. Dalam perjalanan sejarah merupakan perjalanan pasang surut dalam siklus tumbuh, berkembang dan hancur. Masa surut itu tak terelakkan baik disebabkan oleh faktor-faktor yang muncul dari dalam maupun tekanan dari luar, telah membawa kehancuran kedaulatan kekuasaan Islam di Spanyol pada pertengahan abad ke 13. Namun demikian kehancuran itu tidak membawa kehancuran Islam di Spanyol secara total, disana masih ada kerajaan yang mampu bertahan yaitu Granada.[4]

Kerajaan Granada merupakan kekuatan Islam yang dapat mempertahankan kedaulatannya selama lebih dari dua setengah abad (1232-1492 M)[5], al-Syatibi oleh banyak penulis diduga berada di Granada. Sejarah biografi al-Syatibi tidak banyak terekam. Kelahirannya, menurut berbagai sumber, tidak diketahui secara pasti[6]. Hanya saja digambarkan bahwa nama lengkapnya adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Musa al-Gharnathi al-Lakhmi[7], dan lebih dikenal dan populer dengan sebutan al-Syatibi. Sejarah kehidupannya tidak banyak terlacak. Namun dari data yang diketahui, ia berasal dari suku Arab Lakhmi. Sedangkan nama al-Syatibi merupakan nisbah terhadap Negeri asal keluarganya, Syatibah (Xativa/Jativa). Meski berasal dari daerah ini, namun diduga kuat, al-Syatibi tidak lahir di sana. Sebab, kota tersebut telah jatuh ke tangan kekuasaan Kristen, satu abad sebelum masa hidup al-Syatibi, dan umat Islam telah eksodus dari sana termasuk keluarga besar al-Syatibi. Selanjutnya, keluarga ini tinggal menetap di Granada[8]. Karena itu, al-Syatibi juga mendapat gelar al-Garnathi di belakang namanya.

Meski tanggal dan tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti, kalangan ilmuan yang membahas al-Syatibi memperkirakan ia hidup pada rentang waktu kekuasaan dua Khalifah yaitu Yusuf Abu al-Hajaj (1333-1354 M) dan Sultan Muhammad V (1354-1391 M). Dugaan ini didasarkan pada tahun  wafatnya yaitu tahun 790 H/1388 M.[9] Dugaan ini didapat dari perbandingan antara tahun wafat al-Syatibi dengan masa pemerintahan dua Khalifah tersebut.

Tak jauh beda dengan tanggal kelahirannya, masa pendidikan al-Syatibi juga tidak banyak diketahui. Hanya saja, jika dikaitkan dengan kondisi Granada saat itu yang menjadi basis pendidikan dengan berdirinya Universitas Granada pada masa Khalifah Yusuf Abu al-Hajjaj, maka diduga kuat pendidikan al-Syatibi terkait erat dengan keberadaan Universitas ini[10].

Sebagaimana lazimnya pelajar muslim lainnya, pendidikan al-Syatibi diawali dengan mengkaji bahasa Arab dan seluruh gramatikanya. Dalam bidang ini, tercatat bahwa al-Syatibi berguru kepada seorang ulama besar bidang bahasa, yaitu Abu ‘Abdillah ibn Fakhkhar al-Birri (w. 754 H/1353 M). Ia belajar kepada guru ini hingga sang guru meninggal. Selanjutnya, masih dalam bidang yang sama, al-Syatibi berguru kepada Abu al-Qasim al-Syarif al-Sabti (w. 760 H/1358 M), seorang mufassir terkenal dan penyandang gelar raja bahasa Arab pada masanya. Selanjutnya al-Syatibi juga memperdalam tentang bahasa Arab kepada Abu Ja’far Ahmad al-Syarqawi (w. 762 H/1360 M), yang mengajarkan kepadanya kitab Imam Sibawaih dan Alfiyah Ibn Malik[11].

Bidang Tafsir didapat al-Syatibi dengan berguru kepada Abu ‘Abdillah al-Balansani (w. 765 H/1363 M), seorang ahli tafsir dan penulis terkenal di masanya. Sedangkan dalam bidang hadis, al-Syatibi berguru kepada Abu al-Qasim ibn al-Bina dan Syamsu al-Din al-Tilimsani (w. 767 H/1365 M), yang mengajarkan kitab Jami’ as-Sahih al-Bukhari dan kitab al-Muwatta’ karya Imam Malik. Selanjutnya dalam bidang ushul fikih, ia belajar kepada Imam Abu ‘Abdillah ibn Ahmad al-Maqarri (w. 761 H/1359 M), seorang diplomat dan ahli tahqiq dalam mazhab Maliki, yang datang ke Granada tahun 757 H/1356. Dari guru ini, berdasarkan catatan Khotib, al-Syatibi telah diperkenalkan dengan pemikiran al-Razi mengenai ushul fiqh-nya sebagaimana tertuang dalam kitab al-Mahsul[12]. Ia juga belajar ushul fikih kepada Abu ‘Abdillah Muhammad ibn Ahmad al-Syarif al-Tilimsani (w. 771 H), yang juga mengajarinya tentang teologi rasional. Berdasarkan beberapa sumber, saat berguru kepada al-Tilimsani ini, al-Syatibi memiliki teman seperguruan yang kemudian terkenal sebagai ilmuan Islam, yaitu ibn Khaldun. Al- Syatibi dalam bidang ushul fikih juga berguru kepada  Khatib ibn Marzuq[13].

Selanjutnya, pengetahuan mengenai filsafat dan kalam ia peroleh dengan belajar kepada Abu ‘Ali Mansur al-Masyzali (w. 770 H/1369 M), yang berkunjung ke Granada tahun 753 H/1352 M, dan sempat mendapatkan penghargaan dari ibn al-Khathib, Wazir Granada saat itu, meski akhirnya ia diusir dari Granada tak lama kemudian. Melalui guru ini, al-Syatibi banyak mengenal pemikiran teologi Mu’tazilah dan pemikiran rasional lainnya[14].

Latar pendidikan yang demikian beragam mengantarkan al-Syatibi menjadi seorang ulama yang  ahli dalam berbagai bidang keilmuan. Al-Syatibi sebagai bagian dari kalangan cendekia Andalusia, tampaknya juga turut serta dalam perdebatan yang sering terjadi. Meski basis keilmuan al-Syatibi dekat dan boleh jadi sama dengan fuqaha’, namun tercatat pula bahwa ia sering berselisih paham dengan mereka. Bahkan, ia termasuk ilmuan yang ‘dikucilkan’. Mengenai hal ini, al-Syatibi menggambarkan: “Saya memasuki beberapa profesi yang umum, semisal khutbah dan mengimami shalat. Ketika hendak meluruskan jalan saya, saya mendapati diri saya bagaikan orang asing diantara mayoritas teman-teman semasaku. Adat kebiasaan dan praktek telah mendominasi profesi mereka, noda-noda tambahan telah menutupi Sunnah yang asli[15].

Kegalauan al-Syatibi ini berujung pada dua pilihan, yaitu mengikuti Sunnah Nabi sebagaimana yang ia pahami dan yakini atau mengikuti kebiasaan yang berkembang dan dipraktekkan di masyarakat, meski itu bertentangan dengan keyakinannya. Al-Syatibi lantas memutuskan untuk tetap berpijak kepada Sunnah meski ia harus menerima beberapa tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Antara lain:

  1. Ia dituduh sebagai golongan Syi’ah Rafidah karena ia tidak mau menyebut nama-nama Khulafa’ur Rasyidun ketika khutbah Jum’at.
  2. Ia dituduh tidak mempercayai dan mengabaikan do’a serta menganggapnya tidak berguna. Ini karena ia menolak untuk melakukan do’a secara berjama’ah setelah shalat jama’ah.
  3. Ia dituduh menyukai pemberontakan, karena ia enggan menyebut nama Khalifah tatkala khutbah Jum’at[16].

Hal-hal di atas menunjukkan adanya ketidaksepahaman antara al-Syatibi dengan kalangan fuqaha’ lainnya. Al-Syatibi mengatakan bahwa praktek ibadah mereka telah menyimpang dari ajaran yang semestinya. Sebaliknya, kalangan fuqaha’ juga menuduh al-Syatibi sebagai pembangkang dan pelaku bid’ah.

Sementara ketidaksepakatan al-Syatibi terhadap kalangan sufi misalnya dapat ditunjukkan dengan kritik al-Syatibi terhadap dua praktek mereka, yaitu kewajiban membebaskan batin dan penyerahan diri secara penuh kepada syaikh[17]. Terhadap yang pertama al-Syatibi mengkhawatirkan adanya kekacauan, karena praktek ini merupakan tuntunan untuk meninggalkan segalanya termasuk harta benda dan keluarga, jika hal tersebut dinilai mengganggu aspek batin dalam beragama. Sedangkan untuk yang kedua, al-Syatibi menilai bahwa hal yang demikian bisa mengarah kepada fanatisme sempit dengan hanya mengakui syaikh yang ia ikuti sebagai yang paling utama dan benar serta bersifat segala-galanya. Sebaliknya, kaum sufi menuduh al-Syatibi sebagai orang yang memusuhi wali-wali Allah, karena ia menentang sebagian praktek ibadah kaum sufi[18].

Namun demikian, tidak dijumpai keterangan yang pasti mengenai karier al-Syatibi terkait dengan keilmuan yang dimiliki. Hanya saja, dari berbagai sumber penelusuran yang ada, para ahli yang mengkaji tokoh ini, menyebutkan bahwa al-Syatibi pernah menduduki beberapa posisi. Dugaan pertama adalah bahwa al-Syatibi adalah seorang imam dan juga khatib di beberapa masjid. Abu Ajfan, sebagaimana dikutip oleh Duski, menuturkan beberapa pernyataan ulama mengenai kiprah al-Syatibi. Ia adalah seorang imam, al-Syaikh al-Ustaz, ahli hukum, peneliti, ‘allamah dan shalih[19].

Dugaan kedua, al-Syatibi adalah seorang mufti, ahli fatwa. Ini diketahui dari adanya beberapa fatwa yang ia keluarkan dalam kaitan menjawab persoalan yang diajukan kepadanya. Hanya saja, persoalan apakah ia adalah seorang mufti resmi yang diangkat oleh negara, atau hanya sebatas ulama yang dimintai fatwa secara ‘voluenter’ masih merupakan teka-teki. Mas’ud Khalid nampaknya lebih cenderung mengatakan bahwa al-Syatibi adalah seorang mufti ‘non pemerintah’ dengan bukti tiadanya gelar panggilan al-Musawwir yang melekat pada namanya sebagai panggilan resmi mufti negara[20]. Namun demikian, Hamka mencatat bahwa meski barangkali bukan mufti negara, tapi sebagian fatwa al-Syatibi dinilai sebagai mendukung kebijakan pemerintah, misalnya  dalam hal pemberlakuan pajak demi kemaslahatan umum[21]. Menurut al-Kailani, sebagaimana dikutip oleh Duski Ibrahim, al-Syatibi memiliki corak fatwa yang ketat jika terkait persoalan ibadah, dan lebih longgar jika terkait persoalan muamalah. Untuk kasus pertama misalnya dapat dilihat dari keengganannya untuk melakukan praktek ibadah jika tidak didukung oleh dalil yang kuat, misalnya ia menolak praktek do’a bersama, juga menolak menyebutkan nama Khalifah saat khutbah Jum’at. Sedangkan dalam persoalan muamalah, bisa dicontohkan dengan  -disamping contoh pemberlakuan pajak di atas- dukungan al-Syatibi terhadap kebijakan pemerintah dalam menggunakan harta baitul mal untuk perbaikan benteng kerajaan, demi kemaslahatan umum, meski pendapat ini ditentang oleh sebagian ulama fikih semasanya[22].

Sedangkan dugaan ketiga menyatakan bahwa al-Syatibi adalah seorang guru. Ini terbukti dari adanya murid-murid al-Syatibi yang dibelakang hari menjadi tokoh penting di Andalusia, misalnya Ibnu ‘Asim yang menjadi ketua Qadi di Granada. Terdapat pula nama Abu Bakar al-Qadi, seorang faqih Granada, kemudian Abu Ja’far Ahmad, seorang murid sekaligus patner diskusi al-Syatibi. Dengan  murid terakhir ini, diberitakan bahwa al-Syatibi selalu berdiskusi termasuk tentang isi kitab al-Muwafaqat[23].

       [1] Lihat, Asafri Jaya Bakri, Op. Cit., h. 13

       [2] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, (Jakarta : UI Press, 1985), jilid I, h. 62

       [3] Asafri Jaya Bakri, Konsep Maqashid Syari’ah menurut al-Syatibi, (PT. Raja Grafindo Persada, 1996), cet. Ke-I, h. 14

       [4] Ibid, h. 15

       [5] Abd. Al-Hamid al-Abadi, op.cit., h. 170

       [6] Kesulitan mencari biografi al-Syatibi, terutama terkait dengan kelahirannya, diakui banyak kalangan yang membahasnya.  Lihat misalnya, Duski Ibrahim, Op. Cit, h. 25

       [7]  Lihat “Tarjamatul Muallif” dalam al-Syatibi, Op. Cit.,h. 10

       [8] Abdul Aziz Dahlan (Editor), Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 1997), cet. Ke-I, h. 169

       [9] Lihat misalnya, Asafri Jaya Bakri, Op. Cit., h. 17

       [10] Pendapat ini banyak dikemukakan para Ahli yang membahas al-Syatibi, lihat misalnya Hamka Haq, Al-Syatibi, Aspek Teologis dalam Kitab al-Muwafaqat, (Jakarta: Erlangga, 2007), h. 18; Namun, sementara kalangan tidak berani memastikan dugaan keterkaitan al-Syatibi dengan Universitas Granada tersebut, sebab memang sejauh ini tidak ada bukti autentik yang dapat dijadikan penguat dugaan ini. Misalnya pendapat Duski Ibrahim, Ia justru berpendapat bahwa al-Syatibi menjalani masa pendidikannya di Granada dalam bentuk halaqah-halaqah yang memang marak saat itu. Melalui halaqah-halaqah inilah al-Syatibi menimba ilmu pengetahuan setelah menjalani pendidikan bersama orang tuanya. Lihat Duski Ibrahim, Op. Cit., h. 26

       [11] Ibid., h. 27; Hamka Haq, Op. Cit., h. 18-19

       [12] Khotib, Op. Cit., h, 37

[13] Abdullah Mustofa al-Maraghi, Op. Cit.,  h. 276 ; Hamka Haq, Op. Cit., h. 19

[14] Abdul Aziz Dahlan, Op. Cit., h. 1700-1701; Hamka Haq, Op. Cit., h. 18-19

       [15] Abu Ishaq al-Syatibi, al-I’tisam, (Riyadl: Maktabah al-Riyad al-Hadisah, tt)., Jilid I, h. 25

       [16] Ibid., h. 27-28

[17] M. Khalid Mas’ud, Op. Cit., h. 117-118

       [18] Al-Syatibi, Op. Cit., h. 28; M. Khalid Mas’ud, Op. Cit., h. 116

[19] Duski Ibrahim, Op. Cit., hlm. 29

       [20] M. Khalid Mas’ud, Op. Cit., h. 114

       [21] Hamka Haq, Op. Cit., h. 20

[22] Duski Ibrahim, Op. Cit., h. 30-31

[23] Ibid., 32

Advertisements