quran الوســــــــــــــــــــطية فى حــــــــكم القـــــــران

MODERASI HUKUM AL-QUR’AN[1]

Ahmad Muslimin[2]

PENDAHULUAN

Manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah Swt dan tujuan tertinggi dari eksistensi manusia di dunia adalah merealisasikan ibadah, di mana ibadah dalam Islam adalah setiap aktivitas kebaikan yang dengannya manusia menghadap Allah Swt[3] dan satu-satunya ibadah yang diridhoi dan diakui Allah Swt adalah yang didasarkan pada dasar agama Islam yang qath’i, di mana secara global dengan datangnya risalah Nabi Muhammad Saw maka terhapuslah segenap ajaran Nabi-nabi sebelumnya. Rasulullah Saw bersabda :

والله لو كان موسى حيا بين أظهركم ما حل له إلا أن يتبعني

“Demi Allah seandainya Nabi Musa AS hidup diantara kalian, tidaklah ia diperkenankan (mengikuti ajaran apapun) kecuali mengikuti ajaranku.”[4]

Di antara karakteristik mendasar ibadah dalam Islam adalah sifat moderatnya ‘wasathiyyah’. Konsep ini merujuk pada makna ummatan wasathan dalam al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 143.

7Ï9ºx‹x.ur öNä3»oYù=yèy_ Zp¨Bé& $VÜy™ur (#qçRqà6tGÏj9 uä!#y‰pkà­ ’n?tã … Ĩ$¨Y9$#

Dengan karakter inilah ajaran Islam beserta perangkat-perangkatnya akan selalu bersifat fleksibel ‘murunah’ serta tak usang dimakan zaman. Sebagaimana ditegaskan oleh Qardawi bahwa salah satu karakteristik Islam yang menjadi faktor keuniversalan, fleksibilitas dan kesesuaian ajarannya di setiap zaman dan tempat adalah konsep wasathiyyah-nya,[5] di samping karakteristik lainnya; Rabbaniyyah (bersumber dari Tuhan dan terjaga otentisitasnya), al-Insaniyyah (sesuai dengan fitrah dan demi kepentingan manusia), al-Syumul (universal dan konfrehensif), al-Waqi’iyyah (kontekstual), al-Wudhuh (jelas), dan al-Jam’u bayna al-Tsabat wa al-Murunah (harmoni antara perubahan hukum dan ketetapannya).[6]

MODERASI HUKUM AL-QUR’AN

  1. Pengertian Moderasi

Kata ‘moderasi’, dalam KBBI, diambil dari kata moderat yang berarti mengacu kepada makna perilaku atau perbuatan yang wajar dan tidak menyimpang, berkecenderungan ke arah dimensi atau jalan tengah, pandangannya cukup, ia mau mempertimbangkan pandangan pihak lain.

Dalam bahasa Arab moderasi sering dimaknakan dengan pengertian al-Wasathiyyah berkisar pada makna adil, utama, pilihan/terbaik, dan seimbang antara dua posisi yang berseberangan. Di antaranya, kata wusuth yang berarti al-Mutawassith dan al-Mu’tadil. Dan kata wasith yang berarti hasib dan syarif. Dan kata al-Wasath yang berarti al mutawassith baina al mutakhashimaini (penengah antara dua orang yang berselisih).[7]

Raghib al Asfahani mengartikannya sebagai titik tengah, seimbang tidak terlalu ke kanan (ifrath) dan tidak terlalu ke kiri (tafrith), di dalamnya terkandung makna keadilan, kemulian, dan persamaan.[8] Hal senada dinyatakan oleh Ibnu Faris, katanya: “kata al-Wasathiyyah berasal dari kata wasath, yang memiliki makna yang berkisar pada adil, baik, tengah dan seimbang.”[9] Kata ini mengandung makna baik, seperti dalam sebuah hadits, “Sebaik-sebaik urusan adalah awsathuha (yang pertengahan)”.[10]

Kemudian dalam perkembangannya kata wasathiyyah seringkali dipadankan dengan istilah ‘Moderasi’ yang secara etimologi berasal dari bahasa Inggris ‘moderation’ artinya sikap sedang, tidak berlebih-lebihan. Adapun ‘Moderator’ adalah seorang penengah, atau pelerai.[11]

Secara sederhana pengertian wasathiyyah berangkat dari makna-makna etimologis di atas adalah suatu karakteristik terpuji yang menjaga seseorang dari kecendrungan bersikap ekstrim atau bisa didefinisikan sebagai sebuah metode berpikir, berinteraksi dan berperilaku yang didasari atas sikap tawazun (seimbang) dalam menyikapi dua keadaan perilaku yang dimungkinkan untuk dianalisis dan dibandingkan, sehingga dapat ditemukan sikap yang sesuai dengan kondisi dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran agama dan tradisi masyarakat.[12] Dengan pengertian ini sikap wasathiyyah akan melindungi seseorang dari kecenderungan terjerumus pada sikap berlebihan.

  1. Pendapat Para Tokoh

Yusuf Qardhawi menjelaskan, wasathiyyah yang dapat disebut juga dengan al-tawazun, yaitu upaya menjaga keseimbangan antara dua sisi/ujung/pinggir yang berlawanan atau bertolak-belakang, agar jangan sampai yang satu mendominasi dan menegasikan yang lain. Sebagai contoh dua sisi yang bertolak belakang; spiritualisme dan materialisme, individualisme dan sosialisme, paham yang realistik dan yang idealis, dan lainnya. Bersikap seimbang dalam menyikapinya yaitu dengan memberi porsi yang adil dan proporsional kepada masing-masing sisi/pihak tanpa berlebihan, baik karena terlalu banyak maupun terlalu sedikit.[13]

Sedangkan Abd al Karim az Zaid mendefinikan wasathiyyah sebagai suatu konsep yang mengandung makna yang luas meliputi setiap karakteristik terpuji (khaslah mahmudah) di antara dua sisi tercela/ekstrim (tharfani madzmumani), seperti kedermawanan antara kebakhilan dan kemubadziran, sikap berani antara kepengecutan dan bunuh diri.[14]

Adapun pengertian wasathiyyah menurut terminologi Islam,[15] yang bersandarkan kepada sumber-sumber otoritatifnya, secara terperinci Qardhawi mendefinisikannya sebagai sebuah sikap yang mengandung pengertian keadilan sebagai konskwensi diterimanya kesaksian seorang saksi berdasarkan QS. al Baqarah : 143. Berarti juga konsistensi dalam manhaj (istiqamah al manhaj) dan jauh dari penyelewengan dan penyimpangan berdasarkan QS. al Fatihah : 6. Berarti pula dasar kebaikan (dalil al khairiyyah) dan penampakan keutamaan dan keistimewaan dalam perkara kebendaan (al maddiyyat) dan kemaknawian (al ma’nawiyyat). Juga berarti tempat yang penuh keamanan yang jauh dari marabahaya. Demikian pula berarti sumber kekuatan dan pusat persatuan dan perpaduan.[16]

Ada pula yang menganggap bahwa konsep wasathiyyah bukanlah suatu sikap yang diambil oleh seseorang terhadap agamanya, bukan pula sebuah metode untuk memahami agama. Akan tetapi wasathiyyah adalah sebuah karakter yang diperoleh seorang muslim sebagai buah dari komitmennya terhadap ajaran agama. Karakter inilah yang menjadikannya masuk ke dalam golongan syuhada’’ala an nas (para saksi atas manusia), yaitu para saksi yang diterima oleh Allah persaksiannya. Selain itu karakter ini telah pula terdeskripsikan dalam sikap beragama Nabi Muhammad Saw dan para shahabatnya. Sebab dengan hikmah-Nya yang Maha Luas, Allah telah memberikan contoh hidup yang nyata dalam bentuk jama’ah atau komunitas yang terwujud di dalamnya wasathiyyah ini. Allah dan Rasul-Nya telah menjadi saksi bagi para sahabat Muhammad Saw bahwa mereka telah mewujudkan karakter wasathiyyah tersebut. Karenanya, setiap orang yang dekat dengan manhaj komunitas sahabat dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama dan antusias mengikuti jejaknya, maka ia semakin dekat kapada wasathiyyah.[17]

Meski demikan dua pandangan ini pada hakikatnya saling menguatkan satu sama lainnya. Dalam arti jika seorang muslim dengan komitmen yang tinggi serta secara konsisten menjalankan aturan syariat dengan pemahaman yang benar, maka karakteristik wasathiyyah ini akan tampak pada dirinya lalu melahirkan sikap yang proporsional dalam menilai dan menyikapi setiap sesuatu.

Selanjutnya Jamaludin Mahmud menegaskan, bahwa konsep wasathiyyah sebagaimana tertera dalam QS. al Baqarah : 143 adalah sifat atau karakteristik yang khusus dimiliki umat Islam. Konsep ini tidak ditemukan dalam ajaran-ajaran kitab suci selain al-Qur’an. Begitu pula dengan konsep khairiyyah (virtue, keunggulan, pilihan) seperti disebut dalam surah Ali Imran : 110.[18] Dan antara keduanya memang memiliki korelasi, sebagaimana dijelaskan oleh para mufassir, bahwa makna ‘wasath’ selain berarti adil atau seimbang juga berarti pilihan, unggul atau terbaik.[19]

Kemudian konsep wasathiyyah ini pada tataran yang lebih real, teraplikasikan dalam ajaran (syariat) Islam tentang cara beragama, sebagaimana disimpulkan oleh al Syatibi bahwa, “Syariat (Islam) di dalam menentukan pembebanan (taklif) senantiasa menempuh jalan keseimbangan dan keadilan”.[20]

Dengan arti lain, wasathiyyah yang dimaksudkan Islam adalah wasathiyyah yang cakupannya sangat luas, ia meliputi kebudayaan dan budi pekerti ‘al-Wasathiyyah, tsaqafah wa suluk’, sesuatu yang dapat berkembang namun tetap menjaga orisinalitasnya ‘al washatiah, tathawwur wa tsabat’, yang berfungsi sebagai alat memperbaiki umat ‘aliyat ishlah al ummah’, sebagai langkah-langkah menuju kejayaaan umat ‘khuthuwat al ummah li al qimmah’, jalan keluar bagi alam semesta dari kungkungan kegelapan ‘mukhrij al ‘alam min al hishar’, sebagai titik tolak tersebarnya umat Islam kesegenap penjuru bumi ‘munthalaq al ummah nahwa al ‘alamiyyah’, sebagai vaksin dari permusuhan yang berkepanjangan ‘dawa’ al muwajahah’, sebagai balsem dari tantangan kontemporer ‘balsm at tahaddiyat al mu’ashirah’, dan wasathiyyah sebagai beban syari’at sekaligus kemulian bagi mereka yang konsisten membawa beban tersebut ‘al-Wasathiyyah taklif wa tasyrif’.[21]  Dengan demikian wasathiyyah adalah ruh kehidupan yang dengannya tertegak seluruh aspek kehidupan serta sebagai pusat semua keutamaan ‘ra’us al fadha’il’.

  1. Ciri dan Karakteristik Moderasi[22]

Secara singkat ciri moderasi yang kiranya perlu diketahui, yaitu:

  1. Memahami Realitas.

Sosial kehidupan manusia ini berkembang tanpa batas, sementara teks-teks keagamaan terbatas (jumlah ayat al-Qur’an hanya sekitar 6.236 ayat dan tidak akan bertambah, jumlah hadist Nabi juga tidak lebih dari 6.000-an hadist). Karena itu, ada hal-hal yang bersifat tetap ‘tsawabit’, ada pula yang bersifat berubah ‘mutaghayyirat’. Yang tsawabit sangat sedikit (berupa prinsip-prinsip akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak. Sedangkan yang mutaghayyirat amat banyak jumlahnya. Oleh karena itulah kita bisa mengerti mengapa fatwa ulama di negara A terkadang berbeda dengan ulama di negara B, atau fatwa ulama pada abad sekian berbeda dengan fatwa ulama kontemporer.

  1. Memahami prioritas.

Dalam hukum taklifi, ada wajib atau fardlu, haram, mubah, sunnah, sunnah mu’akkadah. Yang wajib atau fardu ini pun ada yang bersifat ‘ain dan ada yang bersifat kifayah yang apabila sudah dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang maka orang lain tidak terkena lagi kewajiban itu. Untuk beragama secara moderat menuntut kita untuk pandai-pandai memahami mana yang harus kita prioritaskan.

  1. Memahami teks-teks keagamaan secara komprehensif.

Ayat-ayat al-Qur’an saling terkait satu sama lain harus dipahami secara utuh, karena ayat yang satu menjelaskan ayat yang lain dalam tema yang sama atau berkaitan. Sebagai contoh, dengan membaca seluruh ayat-ayat al-Qur’an terkait jihad, akan kita pahami bahwa kata “jihad” tidak selalu berarti perang atau angkat senjata. Tetapi jika kita hanya membaca satu dua ayat jihad yang terlepas dari konteksnya atau kaitannya dengan ayat yang lain, bisa saja kita akan mendapat kesan bahwa ajaran Islam itu keras, kejam, tidak toleran, dan sebagainya. Ini mirip dengan tahi lalat yang ada pada wajah seseorang yang membuatnya tampak menarik. Wajah orang itu akan menarik kalau dilihat secara utuh, tetapi akan sangat tidak menarik kalau yang dilihat hanya tahi lalatnya, meskipun tahi lalat itu adalah unsur penting yang membuatnya menarik.

Secara singkat karakteristik-karakteristik moderasi sebagai berikut:

  1. Memadukan antara salafiyah dan tajdid.

Salafiyah berarti kembali kepada generasi pertama dalam memahami agama dan mengembalikan segala persoalan keagamaan kepada al-Qur’an dan al Sunnah. Sedangkan tajdid adalah proses penyesuaian terhadap perkembangan zaman dan pembebasan dari belenggu kejumudan dan taklid.

  1. Menyeimbangkan antara ajaran-ajaran agama yang konstan ‘tsawabit’ dan yang bisa berubah ‘mutaghayyirat’, sehingga tidak terjebak dalam kebekuan dalam persoalan-persoalan yang lentur dan menghendaki dinamisasi. Juga tidak terjebak kepada perubahan hal-hal yang semestinya tetap dan tidak berubah.
  2. Mewaspadai dan menghindari cara pemahaman keliru terhadap Islam, yang terepresentasikan dalam tiga model:
  3. Pemahaman yang stagnan dan jumud terhadap Islam ‘tajmid’.
  4. Pemahaman distortif, penyimpangan dan pengaburan hakekat ajaran- ajaran  Islam ‘tamyii’, seperti dilakukan kaum sinkretis.
  5. Pemahaman parsial dan pemisahan satu aspek ajaran dari lainnya ‘tajziah
  6. Memahami Islam secara universal dan komprehensif, meliputi segala dimensi dan aspeknya, yaitu: aspek spritual ‘imany, ruhani’; aspek sosial ‘ijtima’i’; aspek politis ‘siyasi’: aspek jurisprudensial ‘tasyri’i’ ; serta aspek peradaban dan kultural ‘hadlari’.
  7. Moderasi Hukum al-Qur’an
  8. Kemanusiaan

Nilai kemanusian menurut pandangan Muslim moderat dalam al-Qur’an adalah bagaimana mengajarkan manusia bahwa kemuliaan itu bagi seluruh umat tanpa membedakan agama, ras, warna kulit dan sebagainya sebagaimana dijelaskan dalam (QS. Al-Isra: 70).

ô‰s)s9ur $oYøB§x. ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä öNßg»oYù=uHxqur ’Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur Nßg»oYø%y—u‘ur šÆÏiB ÏM»t7ÍhŠ©Ü9$# óOßg»uZù=žÒsùur 4’n?tã 9ŽÏVŸ2

ô`£JÏiB $oYø)n=yz WxŠÅÒøÿs?

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

Sejak masa diturunkannya al-Qur’an mempunyai misi untuk menyelamatkan manusia, dan menghidupkan keadilan dalam bentuknya yang paling konkrit. Al-Qur’an merupakan aturan dan kekuatan Ilahiah untuk membebaskan manusia dari kondisi-kondisi ketidakadilan, terkotak-kotak dan kedzaliman. Ajaran al-Qur’an tidak membedakan agamanya apa, sukunya apa dan apa warna kulitnya, semua dimuliakan oleh Allah dan disinilah moderatnya al-Qur’an, semua diberi rizki yang sama dan banyak, Sayangnya kini prinsip persamaan ini mulai terkubur oleh praktek-praktek keberagamaan yang ritualistik dan radikal tidak melihat lagi, selama tidak sama dengan mereka maka tidak diakui keberadaannya.

  1. Toleransi

Didalam al-Qur’an tidak dinafikan tentang adanya perbedaan dikalangan umat Islam karena perbedaan adalah sebuah keniscayaan, moderat juga dicirikan oleh keterbukaan terhadap keanekaragaman pandangan. Sebagaimana dijelaskan dalam (Q.S Al-Kahfi : 29).

È@è%ur  ‘,ysø9$# `ÏB óOä3În/§‘ ( `yJsù uä!$x© `ÏB÷sã‹ù=sù ÆtBur uä!$x© öàÿõ3u‹ù=sù 4 …

“Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir…”.

Sesuai dengan sunatullah, perbedaan antar manusia akan terus terjadi. Oleh karena itu pemaksaan dalam berdakwah kepada mereka yang berbeda pandangan, baik dalam satu agama maupun berbeda agama, tidak sejalan dengan semangat menghargai perbedaan yang menjadi tuntunan al-Qur’an. Sikap toleransi dan moderasi yang ditunjukkan al-Qur’an sangat jelas, mannusia diberi kebebasan untuk beriman atau kafie, Islam sangat menentang sikap anti-moderasi atau lebih tepatnya ekstremisme ‘ghuluw’ dalam bentuk apapun. Sikap ghuluw akan menimbulkan dampak negatif dan ekses minus bagi individu, keluarga, masyarakat, negara, dan dunia. Sikap ekstrem dalam beragama juga akan memberikan dampak negatif terhadap agama itu sendiri dan akan menimbulkan bencana ke luar agama. Ghuluwisme akan menyebabkan agama –dan biasanya dituduhkan kepada Islam—menjadi pihak tertuduh munculnya dis-harmoni di tengah-tengah masyarakat lokal dan internasional.

Ghuluwisme adalah sikap anti-moderasi dan tidak memiliki tempat dalam norma, doktrin, wacana dan praktek Islam.

  1. Keseimbangan

Orang yang baik adalah orang yang bisa menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat tidak meninggalkan atau melebihkan salah satu diantara keduanya, hanya terfokus dengan kesibukan dunia, hanya bekerja dan bekerja tanpa memikirkan kehidupan setelah dunia, atau sebaliknya orang yang hanya memikirkan kehidupan untuk akhirat hanya ibadah dan ibadah disisi lain dia atau mungkin keluarganya kelaparan tidak bersosialisai hal yang demikianpun tidak baik, al-Qur’an sebagai pedoman menggambarkan tentang keseimbangan dunia dan akhirat, sebagaiman firmanNya dalam (QS. Al-Qashash : 77).

Æ÷tGö/$#ur  !$yJ‹Ïù š9t?#uä ª!$# u‘#¤$!$# notÅzFy$# ( Ÿwur š[Ys? y7t7ŠÅÁtR šÆÏB $u‹÷R‘‰9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJŸ2 z`|¡ômr&

ª!$# šø‹s9Î) ( Ÿwur Æ÷ö7s? yŠ$|¡xÿø9$# ’Îû ÇÚö‘F{$# ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä† tûïωšøÿßJø9$#

 

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan”.

Ayat tadi mengingatkan kita agar tidak terlalu cenderung pada salah satunya, baik kehidupan dunia ataupun akhirat. Sebab kecenderungan yang tidak moderat hanya akan mematikan bagian yang lain.

Ayat lain misalnya, (QS. Al-Furqan : 67).

tûïÏ%©!$#ur !#sŒÎ) (#qà)xÿRr& öNs9 (#qèù̍ó¡ç„ öNs9ur (#rçŽäIø)tƒ tb%Ÿ2ur šú÷üt/ šÏ9ºsŒ $YB#uqs%

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”.

Dengan gamblang Allah menekankan moderasi dalam pembelanjaan harta.

  1. Persamaan Wanita dan Pria

Era sekarang orang ramai membicarakan kesetaraan gender, yang hal ini dalam al-Qur’an sudah lama dibicarakan dan bahkan secara tegas al-Qur’an mendeklarasikan persamaan antara kaum lelaki dan wanita, sebagaimana Allah berfirman dalam (QS. an-Nahl : 97)

ô`tB  Ÿ@ÏJtã $[sÎ=»|¹ `ÏiB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4Ós\Ré& uqèdur Ö`ÏB÷sãB ¼çm¨ZtÍ‹ósãZn=sù Zo4qu‹ym Zpt6ÍhŠsÛ ( óOßg¨YtƒÌ“ôfuZs9ur Nèdtô_r& Ç`|¡ômr’Î/

$tB (#qçR$Ÿ2 tbqè=yJ÷ètƒ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan“.

Ayat tersebut menerangkan bahwa tidak ada perbedaan dalam segala perbuatan antara laki-laki dan perempuan dan ini menjelaskan bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah pilih kasih antara umat manusia siapa saja yang berbuat kebaikan maka akan memperoleh pahala yang lebih baik dari apa yang mereka perbuat dan tidak ada aniaya sedikitpun. Allah juga berfirman dalam (QS. al Hujurat : 13)

$pkš‰r’¯»tƒ  â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu‘$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& y‰YÏã  «!$#

öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz

”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Ayat tersebut memberi penjelasan kepada manusia bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan karena sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa, disinilah moderasi al Qur’an dalam memberikan penegasan bahwa Allah Swt sama sekali tidak pilih kasih dalam hal pahala dan ganjaran atau surga demikian juga Allah tidak pilih kasih dalam hal dosa dan neraka. Demikian pula moderasi dalam hak dan kewajiban-kewajibannya sebagai hamba termasuk pula kewajiban-kewajiban terhadap agamanya. Semua itu dilakukan dalam rangka menyiapkan wanita muslimah untuk dapat mengemban peran besar dalam kehidupan sosial politik umat tanpa meninggalkan ketaqwaannya.

Dengan demikian al-Qur’an sangat mengakomodir peran-peran strategis dalam kehidupan sosial dan politik; peran dalam rumah tangga, peran di masjid, memberantas buta aksara, peran arahan dan bimbingan masyarakat, pendidikan dan pengajaran, peran dalam amar makruf nahi munkar, peran memberdayakan sesama kaum perempuan, peran mengembangkan ilmu pengetahuan dan dakwah kepada kebajikan, peran-peran wanita dalam bidang kesehatan, inilah moderasi al-Qur’an dalam menyetarakan antara laki-laki dan perempuan dalam hak dan kewajiban di masyarakattanpa melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan, ada sisi-sisi tertentu yang tidak dimungkinkan bagi seorang perempuan untuk melakukannya.

Islam bahkan menganjurkan dan memerintahkan wanita-wanita muslimah untuk berperan aktif dalam rumah tangga, masyarakat, negara dan pemerintahan tanpa mengorbankan kewajiban-kewajibannya yang lain sebagai istri, ibu rumah tangga; karena semua hal tersebut dilakukan secara seimbang, moderat dan adil antara hak dan kewajiban, dengan tetap menjaga harga diri dan kehormatannya selaku makhluk Allah yang dimuliakan dan dihormati.

Dalam catatan sejarah Islam seorang wanita Ummu Salamah RA, istri Nabi Saw ikut berunding dengan para shahabat Rasulullah Saw dalam peristiwa politik Perjanjian Hudaibiyah. Ummu Salamah  memberikan saran-saran politik kepada Rasul untuk mengambil langkah-langkah efektif dalam menenangkan emosi yang timbul di kalangan para sahabat RA, yang hampir berputus asa dalam memecahkah masalah yang terjadi saat itu.[23]

Contoh lain adalah bentuk partisipasi seorang wanita dalam politik adalah pemberian komitmen dan kesetiaan ‘Bai’at’ untuk pembelaan terhadap Islam. Di zaman Rasulullah Saw seorang wanita bernama Ummu Hani binti Abi Thalib pernah berperan sosial dengan membangun rumah sakit. Bahkan beliau berperan dalam aktifitas politik dengan melakukan perlindungan terhadap keluarga besarnya saat umat Islam memasuki kota Mekkah pada peristiwa Fathu Mekkah.

Ada seorang wanita yang berperan dalam menggunakan hak berpendapat pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, setelah Umar melaksanakan khutbah di masjid, beliau berpendapat pembatasan batas nilai mahar. Selesai beliau berkhutbah, wanita tersebut berdiri seraya berkata: “Siapakah anda, sehingga memberi batasan atas apa yang Allah dan Rasul-Nya tidak membatasinya ?” serta merta Umar mengomentari: “Wanita ini benar, dan Umar-lah yang salah”.

Sangat nampak jelas bahwa peran wanita di ranah sosial politik merupakan peran yang tidak boleh dikebiri dan dipasung. Wanita bahkan sejatinya memainkan perannya dalam ranah ini sesuai dengan adab dan etika Islam, tanpa mengorbankan kehormatan dan kemuliaan dirinya sebagaimana diberikan penghargaan tersebut oleh Islam.

Al-Qur’an juga tidak dibedakan antara pria dan wanita dalam kewajiban mencari ilmu dan melakukan pendalaman serta pengembangan ilmu pengetahuan; karena kewajiban menuntut ilmu dalam Islam berlaku untuk semua, dan Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu, sebagaimana Firman Allah (QS. Al Mujadalah : 11).

…  Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

sebagaimana sabda Nabi saw:

طلب العلم فريضة على كل مسلم”[24]

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim”.

Setiap orang yang beriman dan berilmu baik wanita maupun pria dalam ayat diatas diberi kesempatan untuk ditinggikan derajatnya tanpa dibeda-bedakan diantara keduanya dan inilah moderasi al-Qur’an dalam memberikan hak dan kewajiban bagi seluruh umat demikian juga setiap muslim dalam hadits tersebut mencakup wanita dan pria, diwajibkan untuk menuntut ilmu.

Untuk memahami peran dan partisipasi wanita dalam mempelajari dan pengembangan ilmu pengetahuan cukup dengan mengutip beberapa riwayat-riwayat hadits dan atsar serta peristiwa sejarah, antara lain:

جاءت امرأة إلى رسول الله فقالت: يا رسول الله، ذهب الرجال بحديثك فاجعل لنا من نفسك يوما نأتيك فيه تعلمنا مما علمك الله.

فقال: “اجتمعن في يوم كذا في مكان كذا. فأتاهن فعلمهن مما علمه الله” (رواه البخاري ومسلم واللفظ للبخاري (

“Datang seorang wanita kepada Rasulullah Saw seraya berkata: “Wahai Rasulullah, orang lelaki pergi (mendengarkan) pelajaranmu, maka buatlah untuk kami satu hari kami dapat mendatangimu mengajarkan kami apa yang Allah ajarkan kepadamu”. Rasulullah Saw menjawab: ”berkumpullah pada suatu hari tertentu”, Maka Rasulullah pun bertemu dengan wanita-wanita (shahabat) dan mengajarkan mereka” (HR. Bukhari Muslim).

Rasulullah Saw pernah meminta asy-Syifa al-’Adawiyah mengajarkan istrinya Hafshah menulis indah. Hal ini menggambarkan spirit aktivitas wanita dalam aspek pengetahuan.

Demikian pula putri kesayangan Imam Malik, yang senantiasa ikut serta dalam majlis ayahnya; jika ia mendengar kesalahan murid ayahnya dalam majlis ilmu dalam membaca kitab al-Muwatho’, ia meralat bacaan mereka dengan cara mengetukkan pintu, lalu Imam Malik pun mengatakan kepada muridnya yang melakukan kesalahan (atas ralat putrinya tersebut) : ’Irji’ fal-gholath ma’ak’ (kembalilah karena kamu melakukan kesalahan).

Ringkasnya, konsep wasathiah, moderasi adalah salah satu pilar terpenting dalam Islam. Dan Wasathiah Islamiyah inilah fitrah manusia sebelum terjadi infiltrasi dari luar yang tidak berkesesuaian dengan fitrah asal tersebut.[25] Dari konsep wasathiah al-Qur’an dengan segala maknanya itulah bagaimana kita berusaha membumikan dan menerjemahkannya sebagai konsep yang lebih praktis di berbagai lini kehidupan manusia muslim.

 

BAHAN BACAAN

Abdurahman M. Abdullah (Baadiyow), The Islah Movement: Islamic Moderation in War-torn Somalia, (Mogadishu: t.pn, 2008)

Abu al Husain Ahmad Ibn Faris, Mu’jam Maqayis al Lughah, (t.t : Dar al Fikr, 1399/1979), jilid. VI

Adian Husaini, Pancasila Bukan Untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam, Kesalahpahaman dan Penyalahpahaman terhadap pancasila 1945-2009, (Jakarta: Gema Insani Press, 2009), cet. ke-1

Ahmad bin Muhammad al Muqri al Fayumi, al Mishbah al Munir fi Gharib asy Syarh al Kabir, (Beirut: al Maktabah al Ilmiah, t.th), jilid. II

Ali Muhammad Muhammad ash Shabi, al Washatiyyah fi al-Qur’an, (Kairo : Maktabat at Tabi’in, 1422/2001), cet. ke-1

Al Jilali al Muraini, al Qawa’id al Ushuliyyah ‘inda al Imam al Syatibi, (Kairo: Dar Ibn Affan, 2002)

  1. Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman (No. 179), Ad Dailami (No. 7469), Ahmad (No. 14672), Abu Ya’la (No. 2135) dan Abu Nashr As Sajzi dalam Al Ibanah dari Jabir bin Abdullah.
  2. Ibn Abi Syaibah no. 36276, Al Baihaqi no. 6176, 3888, 6601, 6176, dari Mutharrif bin Abdillah, Ali, dan Ibn Abbas

HR Ibnu Majah dalam al-Muqoddimah (224), Ibnu Abdil Barr dalam bab al-Ilmu, Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Hadits Anas, Imam Thabrani meriwayatkan dalam kitab al-Kabir dari Ibnu Mas’ud, dan dalam al-Awsath dari Ibnu abbas. As-Sakhowi berkata, riwayat ini memiliki syahid pada Ibnu Syahin dengan sanad yang para perawinya tsiqot dari anas

Ibn Qayyim al Jauziyyah, Madarij as Salikin, h. 74, Sayyid Quthb, Fi Zhilal al Qur’an, jilid. I

Ibnu Faris, Mu`jam Maqayis al Lughah, jilid. I

Ibnu Manzhur, Lisan al ‘Arab, (Beirut : Dar Shadir, t.th), cet. ke-1, jilid. VII

Jamaluddin Mahmud, “The Concept, Characteristic and Application of Wasatiya in Islamic Legislation”, Jurnal Islam Today, (ISESCO, 1992)

Ja’far Syaikh Idris, Wasathiyyah Tanpa Tamayyu’iyah, albayan.com, 31 Desember 2011

John M. Echols dan Hasan Shadily, An English-Indonesian Dictionary, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005), cet. ke-26

Maj ad Din al Fairuz Abadi, al Qamus al Muhith, (t.t, Mu’assasah ar Risalah, t.th)

Muhammad Abd al Qadir ar Razi, Mukhtar ash Shihhah, (Beirut : Maktabah Lubnan Naasyirun, 1415/1995), jilid. I

Muchlis M. Hanafi, “Konsep Al Wasathiah Dalam Islam”, Harmoni: Jurnal Multikultural dan Multireligius, Vol. VIII, Nomor. 32, (Oktober-Desember, 2009)

Muhammd abd al Lathif al Farfur, al-Wasathiyyah fi al Islam, (Beirut: Dar an Nafais, 1414/1993)

Muhammad bin Ali al Syaukani, Tafsir Fath al Qadir, cet. ke-2, jilid. 2

Muhamad Imarah, Ma’alim al Manhaj al Islami, Kairo : Dar al Rasyad, 1996

Raghib al Asfahani, Mufradat Alfazh al-Qur’an, (Damaskus: Dar al Qalam, t.th), jilid. II

Syaikhul Islam Ibn Taimiah, Majmu’ al Fatawa, (t.t: Dar al Wafa’, 1426/2005), cet. ke-3, juz. X

Syed Naquib al Attas, Tinjauan Peri Ilmu dan Pandangan Alam, (Pulau Pinang: Universiti Sains Malaysia, 2007)

Yusuf al Qardhawi, al Ibadah fi al Islam, (Beirut: Mu’assasah ar Risalah, 1409/1989), cet. ke-12

Yusuf al Qardhawi, al Khasha’is al ‘Ammah li al Islam, (Bairut : Mu’assasah al Risalah, 1983). cet. ke-2

Yusuf al Qardlawi, Al Shahwah al Islamiyah baina al Ikhtilaf al Maysru’ wa al Tafarruq al Madzmum, Muassasah al Risalah, Beirut, cet.4, 1995

Zubeir Fadhl Madhawi, Ya Nisa’ad-Du’at Lastunna Kakulli an-Nisa’, Syarikat Maktabah al-Khadamat al-Haditsah, tt

 

[1] Dipresentasikan dalam perkuliahan IAIN Raden Intan Lampung Program S3

[2] Dosen Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam IAIM NU Metro Lampung

[3] Syaikhul Islam Ibn Taimiah, Majmu’ al Fatawa, (t.t: Dar al Wafa’, 1426/2005), cet. ke-3, juz. X, h. 149, Ibn Qayyim al Jauziyyah, Madarij as Salikin, h. 74, Sayyid Quthb, Fi Zhilal al Qur’an, jilid. I, h. 189, Yusuf al Qardhawi, al Ibadah fi al Islam, (Beirut: Mu’assasah ar Risalah, 1409/1989), cet. ke-12, h. 31

[4] HR. Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman (No. 179), Ad Dailami (No. 7469), Ahmad (No. 14672), Abu Ya’la (No. 2135) dan Abu Nashr As Sajzi dalam Al Ibanah dari Jabir bin Abdullah.

[5] Yusuf al Qardhawi, al Khasha’is al ‘Ammah li al Islam, (Bairut : Mu’assasah al Risalah, 1983). cet. ke-2, h. 131.

[6] Ibid, h. 7

[7] Lihat Ali Muhammad Muhammad ash Shabi, al Washatiyyah fi al-Qur’an, (Kairo : Maktabat at Tabi’in, 1422/2001), cet. ke-1, h. 13-15. (Dikutip dari kamus-kamus berikut : Abu al Husain Ahmad Ibn Faris, Mu’jam Maqayis al Lughah, (t.t : Dar al Fikr, 1399/1979), jilid. VI, h. 108, Ibnu Manzhur, Lisan al ‘Arab, (Beirut : Dar Shadir, t.th), cet. ke-1, jilid. VII, h. 427-431, Muhammad Abd al Qadir ar Razi, Mukhtar ash Shihhah, (Beirut : Maktabah Lubnan Naasyirun, 1415/1995), jilid. I, h. 740, Maj ad Din al Fairuz Abadi, al Qamus al Muhith, (t.t, Mu’assasah ar Risalah, t.th), h. 893, Ahmad bin Muhammad al Muqri al Fayumi, al Mishbah al Munir fi Gharib asy Syarh al Kabir, (Beirut: al Maktabah al Ilmiah, t.th), jilid. II, h. 658.

[8] Raghib al Asfahani, Mufradat Alfazh al-Qur’an, (Damaskus: Dar al Qalam, t.th), jilid. II, h. 513.

[9] Ibnu Faris, Mu`jam Maqayis al Lughah, jilid. I, h. 522.

[10] HR. Ibn Abi Syaibah no. 36276, Al Baihaqi no. 6176, 3888, 6601, 6176, dari Mutharrif bin Abdillah, Ali, dan Ibn Abbas,.

[11] John M. Echols dan Hasan Shadily, An English-Indonesian Dictionary, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005), cet. ke-26, h. 384. Lihat juga Abdurahman M. Abdullah (Baadiyow), The Islah Movement: Islamic Moderation in War-torn Somalia, (Mogadishu: t.pn, 2008), h. 3.

[12] Muchlis M. Hanafi, “Konsep Al Wasathiah Dalam Islam”, Harmoni: Jurnal Multikultural dan Multireligius, Vol. VIII, Nomor. 32, (Oktober-Desember, 2009), h. 40.

[13] Yusuf al Qardhawi, al Khasha`ish al Ammah li al Islam, h. 127.

[14] Muhammd abd al Lathif al Farfur, al-Wasathiyyah fi al Islam, (Beirut: Dar an Nafais, 1414/1993), h. 18.

[15] Pembatasan pengertian wasathiah pada konsepsi Islam berangkat dari suatu fakta bahwa konsep ini merupakan murni dan orisinil sebuah konsep yang berasal dari Islam dengan segala kandungannya sebagaimana yang ditegaskan Qardawi. Namun jika konsep ini disepadankan dengan konsep moderasi yang berkembang, maka dalam konteks ini, setidaknya terdapat dua terminologi yang harus dibedakan, hingga tidak menimbulkan kerancuan persepsi tentang Islam itu sendiri. Yaitu, “Islam Moderat” dan “Moderasi Islam”. Untuk terminologi pertama, pada dasarnya term ini tidak pernah dikenal dalam Islam, karena Islam sebagai agama yang telah sempurna, lengkap, dan satu (QS. al Maidah : 3, QS. al Anbiya’ : 92, QS. al Mu’minun : 52) tidak mengenal katagorisasi apapun dalam hakikatnya. Apakah itu katagorisasi yang dianggap negatif seperti, Islam radikal, Islam fundamentalis, Islam militan, Islam jihadis, dan lainnya. Maupun katagorisasi di anggap positif seperti Islam progresif, Islam moderat, Islam modernis dan lainnya. Adapun untuk terminologi kedua, umat Islam sepanjang masa telah sepakat bahwa moderasi sebagai padanan kata wasathiyyah merupakan salah satu karakteristik maupun cara berfikir yang telah melekat dalam Islam itu sendiri merujuk sumber-sumbernya yang otoritatif. Sedangkan sikap-sikap ekstrimis yang terjadi dalam diri umat Islam, merupakan bagian dari penyimpangan yang harus diluruskan. Sebagaimana yang terjadi pada sekte khawarij pada masa Sahabat. Maupun sekte qadariyyah dan jabariyyah pada masa-masa berikutnya. Oleh karena sangat pentingnya memperhatikan masalah penggunaan bahasa dan istilah-istilah dasar dalam Islam ini, Naquib al Attas -seorang cendikiawan muslim Malaysia yang lahir di Indonesia-  mengingatkan perlunya penggunaan bahasa atau istilah-istilah dasar dalam Islam dengan benar agar jangan sampai terjadi kekeliruan yang meluas dan kesilapan dalam memahami Islam dan pandangannya tentang hakikat dan kebenaran. Menurut Naquib al Attas, banyak istilah kunci dalam Islam yang kini menjadi kabur dipergunakan sewenang-wenang sehingga menyimpang dari makna yang sebenarnya. Ia menyebutnya sebagai penafi-islaman bahasa (de-Islamization of lenguange). Contoh kasus penafi-islaman bahasa menurut Naquib adalah pemaknaan istilah “keadilan” yang diartikan sebagai “tiada menyebelahi mana-mana pihak, dan menyamaratakan taraf tanpa batasan, atau sebagai tata cara belaka. Contoh lain, penyalahpahaman makna istilah “adab”, yang diartikan hanya sebagai adat peraturan mengenai kesopanan, yang lazimnya merupakan amalan berpura-pura sopan. (Lihat Syed Naquib al Attas, Tinjauan Peri Ilmu dan Pandangan Alam, (Pulau Pinang: Universiti Sains Malaysia, 2007), h. 60. Dalam Adian Husaini, Pancasila Bukan Untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam, Kesalahpahaman dan Penyalahpahaman terhadap pancasila 1945-2009, (Jakarta: Gema Insani Press, 2009), cet. ke-1, h. 216-217. Selain itu, tetap harus dibedakan pula Islam sebagai agama dan ajaran, dengan pemeluknya. Sebagai agama dan ajaran, Islam tidak pernah berubah. Islam sudah lengkap dan sempurna. Hanya saja, pemahaman pemeluknya terhadap Islam itulah yang berbeda-beda; ada yang lengkap dan tidak; ada yang memahami Islam dari satu aspek, sementara aspek yang lain ditinggalkan. Misalnya, Islam hanya dipahami dengan tasamuh (toleransi)-nya saja, sementara ajaran Islam yang lain, yang justru melarang tasamuh tidak dipakai. Dari sini, seolah-olah Islam hanya mengajarkan tasamuh sehingga Islam terkesan permisif. Pada kenyataannya ada yang boleh di-tasamuhi, dan ada pula yang tidak. Jadi, tetap harus dipilah antara Islam dan orangnya.

[16] Yusuf al Qardhawi, al Khasha`ish al Ammah li al Islam, h. 131-134.

[17] Ja’far Syaikh Idris, Wasathiyyah Tanpa Tamayyu’iyah, albayan.com, 31 Desember 2011. Lihat juga Abdurrahman bin Mu’alla al Luwaihiq, Ghuluw Benalu dalam ber-Islam, h. 8. Al Luwaihiq menambahkan, “Dengan begitu tampak jelas bahwa wasathiyyah bukan merupakan ukuran tentang keutamaan yang dibuat manusia, tapi itu merupakan keistimewaan yang dimiliki agama ini dan syariatnya, bahwa para pemeluk agama ini terbebas dari penyimpangan, baik pada sisi ghuluw atau pada sisi taqshir.”

[18] Jamaluddin Mahmud, “The Concept, Characteristic and Application of Wasatiya in Islamic Legislation”, Jurnal Islam Today, (ISESCO, 1992), h.47

[19] Lihat misalnya, Muhammad bin Ali al Syaukani, Tafsir Fath al Qadir, cet. ke-2, jilid. 2, h. 174.

[20] Al Jilali al Muraini, al Qawa’id al Ushuliyyah ‘inda al Imam al Syatibi, (Kairo: Dar Ibn Affan, 2002), h. 246.

[21] Ibid, h. 22

[22] Baca: Al Qardlawi, Al Shahwah al Islamiyah baina al Ikhtilaf al Maysru’ wa al Tafarruq al Madzmum, Muassasah al Risalah, Beirut, cet.4, 1995, h. 51-124

[23] Lihat: Zubeir Fadhl Madhawi, Ya Nisa’ad-Du’at Lastunna Kakulli an-Nisa’, Syarikat Maktabah al-Khadamat al-Haditsah, tt, h : 27.

[24] HR Ibnu Majah dalam al-Muqoddimah (224), Ibnu Abdil Barr dalam bab al-Ilmu, Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Hadits Anas, Imam Thabrani meriwayatkan dalam kitab al-Kabir dari Ibnu Mas’ud, dan dalam al-Awsath dari Ibnu abbas. As-Sakhowi berkata, riwayat ini memiliki syahid pada Ibnu Syahin dengan sanad yang para perawinya tsiqot dari anas . Lihat al-Jami’ ash-Shogir hadits-hadits no 5264, 5267, dan juga tanggapan al-Munawi terhadap hadits ini dalam Faidhul Qodir 4/267-268.

[25] Muhamad Imarah, Ma’alim al Manhaj al Islami, Kairo : Dar al Rasyad, 1996, h. 79

Advertisements